Menjadi Nomor Satu
Menjadi nomor satu adalah dambaan beberapa orang dan beberapa lagi bukan. Bagi saya, menjadi nomor satu di google dengan cara SEO adalah sesuatu mampus. Karena tulisan yang saya buat (dahulu kala) bukanlah ilmiah, bahkan sesat. Berikut ketikan kata kunci yang menjadi nomor satu atau halaman satu dan merujuk ke blog saya:
- dosa PLN
- evolusi blog
- potensi
- kembali membaca
- kerja dimana
- terima kasih jempolnya
- tombol jendela
- pantai bandealit
- definisi cantik
- fotografer perempuan
Sementara yang saya tahu baru itu, jika ada yang pas ngetik apa gitu di google dan blog saya muncul di halaman satu gugel, saya tolong dikabari yes. Makasih loh ya ini
Ternyata untuk jadi nomor satu atau halaman pertama di google ada caranya. Dulu saya diajari ama Siwi agar mentautkan postingan “A” ke dalam kalimat yang ada di postingan “A”. Dengan demikian ada pengulangan (looping) pada tulisan yang kita buat. Tambahkan juga kata tanda (tags) pada postingan yang kita buat. Saya lebih banyak lupa untuk selalu melakukan itu, akhirnya pernah ada di 3 besar, karena alpa akhirnya melorot di urutan 8 atau bergeser ke halaman 2.
Setelah sempat vakum ngeblog, saya dapat tambahan ilmu baru lagi dari agan Arielz untuk menjadi nomor satu di google. Hampir sama dengan tips dari Siwi tadi, gan Arielz memberi tips untuk gambar, agar nama foto memiliki kata yang sama dengan judul postingan. Itu saya buktikan di tulisan “potensi” “kerja dimana“, “dosa PLN” dan “evolusi blog“. Untuk tulisan sebelum keempat kata kunci tadi yang jadi nomor satu atau halaman satu, adalah masalah keberuntungan. Dan tak lupa juga, setiap tulisan di blog saya terbit, saya juga terbitkan otomatis di twitter dan facebook agar menjadi nomor satu. Entah dengan tulisan ini
.
Terima Kasih Jempolnya
Saya tidak pernah menulis terima kasih jempolnya pada kolom komentar tentang posting (status, tautan, gambar dll) yang saya buat atau bagi di Facebook. Beda dengan Youtube yang memiliki tombol tidak suka (unlike), di Facebook tombol tidak suka muncul saat kita sudah memencet tombol suka. Keengganan saya memberi komentar tersebut, karena memencet tombol suka tidak sebanding dengan membalas dengan menulis 22 karakter (termasuk spasi) untuk menulis “terima kasih jempolnya”.
Bisa saja, orang yang memencet tombol suka, lagi malas untuk berkomentar, sehingga tombol suka sekedar sedekah komen belaka. Kecuali komentar yang menulis “Like this”, saya pasti akan membalasnya (kalau saya mau
). Atau orang yang memberikan jempol pada status, foto, tautan yang anda bagi di facebook sudah muak atas apa yang Anda posting di facebook. Urusan menandai (tagging) begini, ada sebagian rekan saya yang kurang suka ditandai (khususnya barang jualan), karena hal itu membuat tampilanan linimasa (d/h dinding) jadi penuh dengan foto-foto.
Untuk menandai orang dalam postingan seperti foto, tautan, pastikan orang yang akan ditandai, terlibat atau sehobi atau butuh informasi atas hal yang akan anda ditandai. Karena tidak semua orang suka ditandai dalam foto, tautan, (apalagi status) yang anda buat. Sepeti pepatah Rusia yang mengatakan : dalamnya kolam dapat diukur, dalamnya hati harus operasi dulu.
moral cerita: facebook facebook saya, suka-suka saya. facebook facebook elu, apa kate elu. masalah jenderal?
my blog 2011 in review
The WordPress.com stats helper volvo’s prepared a 2011 annual report for this blog.
Here’s an excerpt:
The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 15,000 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 6 sold-out performances for that many people to see it.
Potensi
Potensi, potensial, berpotensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan (kekuatan // daya //) untuk dikembangkan. Ya ada kata mungkin dalam arti kata itu. Bicara tentang mungkin, saya teringat kata pemateri dalam sebuah pengkaderan jurusan di kampus saya tentang potensi.
Pada saat tiba saya untuk mempresentasikan sebuah gagasan abal-abal tentang konsep bisnis dan turunannya, sang pemateri menghitung jumlah kata mungkin yang saya ucapkan. Ternyata saya dan kawan-kawan dalam materi pengkaderan lainnya, boros dengan kata mungkin. Hal itu menurut sang pemateri kurang baik diucapkan untuk menjelaskan sebuah produk atau rencana. Karena saat presentasi sebuah produk atau rencana, terlalu banyak kata mungkin, bisa jadi presentasi produk atau rencana tersebut masih mentah, kurang renyah.
Boleh saja presentasi yang diutarakan super dahsyat, namun saat sang presenter terlalu banyak mengucap kata “mungkin”, maka potensi (daya, kekuatan) materi presentasi menjadi berkurang. Pada awalnya saya sempat bingung dengan maksud pemateri pengkaderan ini. Selidik punya selidik, kata mungkin memiliki konotasi negatif. Pemateri itu menyarankan untuk mengganti kata mungkin menjadi “bisa jadi” atau “semoga”.
Semoga saja anak yang bermain sepatu roda pada gambar menjadi atlit dan bisa jadi berprestasi untuk kejayaan olahraga Indonesia.
Lebih nyaman didengar kan?
Hari Ini
Hari ini adalah 10 Nopember 2011, berdasarkan catatan sejarah Indonesia, hari ini di Surabaya ditahbiskan sebagai Hari Pahlawan. Padahal berdasar diorama di Museum Tugu Pahlawan, peperangan melawan Belanda dan peristiwa perobekan bendera di Surabaya itu terjadi pada 19 September 1945 BUKAN pada 10 Nopember 1945. Peperangan yang terjadi pada 10 Nopember 1945 adalah peperangan melawan pasukan Kimpet eh Kenpetai (Polisi Militer Jepang) Untuk lebih jelas tentang hari pahlawan dan selebihnya, sila klik East Java Traveler. [cmiiw - thx]
Hari ini beberapa tahun lalu, abad lampau, menurut Wikipedia Indonesia, terjadi beberapa peristiwa. Tercatat dalam wikipedia itu beberapa peristiwa sejak tahun 1293 hingga 2011 silih berganti hingga menjadi sejarah dan cerita di dunia dan Indonesia. Secara gamblang peristiwa yang tercatat di dunia dan Indonesia adalah peristiwa yang terjadi pada subyek dan obyek secara masif dan tersebar cepat. Yang saya maksud subyek adalah orang dan obyek adalah peristiwa. Untuk frekuensi berupa masif dan tersebat cepat merupakan citra dari dari subyek dan obyek yang dimaksud. Jika subyek adalah orang kondang baik dari kalangan seniman (baca : artis) atau orang pemerintahan, kegiatan (baik penting atau percuma) yang dilaksanakan pada tanggal berapapun akan ditulis oleh media. Untuk obyek atau peristiwa, dilaksanakan oleh komunal orang yang sepaham, sealiran, senasib sepenanggungan.
Hari ini merupakan tepat sembilan bulan saya bekerja di pabrik susu PT. Susu Sehat Alami sebagai humas. Ilmu yang saya dapat di kantor ini berbeda jauh dibandingkan waktu saya bekerja di pemkot Surabaya. Ilmu yang saya dapat di pabrik susu ini, bisa saya kembangkan untuk berwiraswasta makanan dan minuman. Ditambah tawaran menarik dari Eddy Fahmi untuk membangun resto mungil di Sidoarjo. Detail nanti dulu yes, pamali kata orang Sunda. Kemudian juga terbesit untuk hengkang dari kantor ini dengan kurang dari sepuluh alasan yang jadi pertimbangan untuk keluar. Bukankah bayi yang lahir dari rahim seorang ibu adalah selama sembilan bulan?
Hari ini adalah hari Rabu hari lahir pak Kemis pedagang pasar Minggu yang menjadi satpam pada hari Selasa di stasiun Pasar Senen. Menjadi khotib pada hari Jumat di masjid dekat rumah tinggalnya yang bersebelahan dengan pasar Sabtu, untuk berakhir pekan bersama keluarga tercinta (teringat lagu gending Jawa, lupa judul).
Hari ini, setahun yang lalu saya masih menjadi pengangguran terselubung, bloger abal-abal, desainer grafis gagal, programer galat dan segala hal yang tabu dan kurang patut untuk diperbincangkan (bayangkan anda sedang nonton acara silet).
Hari ini saya harus memperpanjang KTP, SIM serta STNK motor sekaligus. Duit langsung hangus dengan masa berlaku hingga 20 hari lagi. Itu artinya, saya harus pandai mengelola gaji khusus bulan ini untuk keperluan korps Bhayangkari itu. Sekedar info saja, jika terlambat sehari akan memakan waktu berhari-hari dan berbelit jika berurusan dengan korps pimpinan Timur Pradopo itu.
Banyak peristiwa yang terjadi pada hari ini beberapa tahun, windu, dasawarsa hingga abad lampau yang tercatat dalam sejarah atau menjadi legenda yang tersiar turun temurun. Blog wordpress saya ini pertama terbit pada Januari 2008. Itu berarti sudah tiga tahun saya mengisi blog pencitraan ini. Atau lebih tepatnya dua tahun efektif terisi, karena sejak Juni 2009 hingga April 2010 saya vakum menulis dan itu setahun cyyyyn
Suka atau tidak, sepulang acara Blogger Nusantara itu, aura menulis saya kembali menyala berpendar. Saya teringat ucapan Vicky Laurentina yang mengatakan bahwa menulis melatih otak kanan untuk terus aktif agar terus berpikir kreatif. Pantas saja setahun lalu saya serasa hidup di jaman batu walau sekitar penuh ilmu dan saya berulangtahun hari ini.









Recent Comments