Kesempatan, Karir dan Keluarga

Sekitar tiga bulan terakhir ini, pada rentang tanggal 5-15 setiap bulannya, saya  menjadi tahanan gedung untuk asistensi, revisi dan pembuatan laporan. Selama sehari penuh saya harus membuat, merivisi, mencetak dan menjilid laporan yang setebal kerdus komputer jinjing sambil daring doms *teuteup* :mrgreen: .

Pada waktu asistensi dan revisi tersebut, salah satu engineer bertanya kepada saya perihal untuk mencari pekerjaan baru. Apa? Cari kerja lagi? Saya bertanya balik, atas dasar apa pertanyaan tersebut diajukan kepada saya? Dia memberi jawaban standar, bukankah setiap orang berhak untuk mencapai karir yang lebih baik.

Oke, saya sependapat dengan hal ini. Namun saya sendiri, belum terpikirkan untuk pindah kerja lagi. Pengalaman saya di dunia migas masih bibit. Butuh pupuk ilmu dan siraman pengetahuan agar bibit tersebut tumbuh dan berkembang.

Engineer bertanya demikian kepada saya, karena banyak rekan di kantor pusat Jakarta pada pindah ke perusahaan migas asing atau ke kompetitor. Dia juga berucap, pilihannya Indonesia Timur, Indonesia Barat atau Jakarta.

Hmmmm, kota Jakarta kembali muncul.

Sebulan atau dua bulan lalu, saya ditawari untuk mutasi ke Jakarta sebagai penyelia jaringan pipa gas baru di wilayah Sumatra. Namun saya menolak tawaran tersebut, karena saya dan calon istri sepakat bahwa hidup berkeluarga di Jakarta butuh perjuangan ekstra keras dan ekstra sabar. Sementara saya bukan tipe penyabar, saya adalah tipe penyanyang dan penuh cinta *halah*.

Macet

Tua di jalan

Kehidupan yang egosentris yang membahana.

Hidup kehidupan di Jakarta cocok untuk orang yang belum berkeluarga bin bujang binti jomblo. Kalaupun ada keluarga yang bisa hidup di Jakarta sungguh luar biasa. Biaya rumah atau apartemen yang membumbung tinggi membuat para pekerja Jakarta harus berumahtangga di Jakarta coret. Waktu tempuh (kata teman dan saudara) sekitar 2-4 jam dari rumah Jakarta coret ke tempat kerja di Jakarta, bagi saya sebagai orang Jawa Timur keterlaluan. Jarak tempuh Sidoarjo-Surabaya saja kondisi macet parah bisa ditebus dengan waktu 1 jam.

Engineer saya berpendapat kalau demikian, keluarga adalah penghambat karir. Saya jawab tidak. Setinggi apapun karir seseorang jika tanpa dukungan kelurga juga percuma. Apalah arti karir mentereng namun kehidupan keluarga berantakan karena waktu untuk keluarga hanya Sabtu, Minggu dan hari besar. Senin sampai Jumat, waktu terbuang di kantor dan jalan. Akhirnya anak menjadi anaknya pembantu atau baby sitter. Itu kalau punya anak, kalau belum dikaruniani anak karena kondisi untuk berasyik masyuk setiap malamnya letoy gegara kecapekan di jalan? Nah, siapa tahu. Namun saya bukan antipati terhadap kota Jakarta, karena kakak saya pun pernah mencicipi geliat hidup keras di Jakarta. Jika suatu saat nanti saya akan ditarik ke kantor pusat, tentu saya akan mempertimbangkannya.

Moral Cerita : Rejeki dan jodoh tak akan kemana, karena itu kejarlah. Jika sudah dapat rejeki, kejarlah jodoh, begitu juga sebaliknya. Berlaku untuk semua zodiak.

Makna Bahagia

pursuit of happines (538x800)

Beberapa waktu yang lalu iPulg, berkicau tentang film “The Pursuit of Happyness” yang membuatnya menangis (begitupun saya). Film itu adalah film kedua yang berhasil membuat mata saya berkaca-kaca setelah The Lion King :mrgreen:

Pertanyaan dasar dari film “The Pursuit of Happyness” adalah apa sih makna bahagia?

Banyak beberapa rekan, teman atau orang lain menakar kebahagiaan dari materi. Sehingga terciptalah semacam stereotip orang bahagia adalah orang dengan kekayaan sekian, rumah demikian, kendaraan berjajar. Dan saya pun silau dengan beberapa rekan yang seusia saya atau bahkan lebih muda yang memiliki kekayaan berlimpah entah hasil jerih payah mereka atau warisan.

Di ranah lini masa, sering saya jumpai tagar atau kicauan berbunyi “bahagia itu sederhana”. Saya suka membaca beberapa kicauan tersebut. Bahagia memiliki ukuran personal alias relatif dan berbeda-beda di tiap orang.
Misalnya menemukan duit 10ribu dalam saku celana ketika tanggal tua,
Pedagang makanan belum lewat, namun ada camilan di laci kerjanya.
Melihat senyuman dosen yang “killer” adalah bahagia.
dan masih banyak lagi contoh bahagia itu sederhana di linimasa twitter.

Setelah saya amati dan rasakan, inti dari bahagia itu adalah bersyukur. Ya dengan bersyukur saya merasakan kebahagiaan.

Saya bersyukur dan saya bahagia bahwa tadi pagi bisa sarapan, saya bersyukur bila dibanding dengan orang yang entah akan makan apa hari ini.
Saya bersyukur dan saya bahagia bahwa saya memiliki pekerjaan dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak memiliki penghasilan.
Saya bersyukur dan saya bahagia bahwa saya bisa mengoperasikan komputer dibandingkan dengan orang yang belum paham penggunaan tetikus dan papan ketik komputer.
Saya bersyukur dan saya bahagia mendengar suara mama via telepon dalam keadaan sehat walafiat, dibandingkan dalam keadaan sakit.
Saya bersyukur dan saya bahagia segera menikah bulan Juni 2013 besok bersama Okky dibandingkan dengan orang yang masih akan berencana menikah entah kapan dengan siapa.

Moral Cerita : Sudahkah Anda bersyukur hari ini?

Perihal Ujian

Kualitas hidup manusia haruslah semakin baik. Bahkan hadist rasul beberapa abad lalu yang kurang lebih berbunyi, jika hari ini sama dengan kemarin, sesungguhnya masuk golongan merugi. (kalo keliru mohon dimaaf yee cyn)

Bicara soal ujian, tahun 2013 merupakan ujian terberat bagi saya. Penghujung 2012 yang dilalui dengan #UnoHore bersama pacar begitu indah. Lalu di awal 2013 sesuai permintaan saya sendiri untuk pindah divisi yang tidakadamakhlukbernamasedotan akhirnya dikabulkan dengan metode libur dahulu. Rupanya nasib tempat saya bekerja bersama @efahmi semakin hari semakin suram. Akhirnya ditariklah saya untuk menjadi trainer di Jakarta, namun saya tolak karena nominal gaji yang saya terima sama dengan di Surabaya.

Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi fundraising team (bahasa gampangnya : pencari sumbangan) di Jember. Sebelum memilih profesi ini, saya bertanya kepada pacar calon istri saya, “Maukah seusai menikah, hidup berkeluarga di Jember?” tanpa jeda napas calon istri saya berujar : “Mau”

Saya terharu dibuatnya. Kekhawatiran akan hidup serba ada dan apa-apa ada di Jakarta sempat terbesit di benak saya. Calon istri saya berargumen bahwa dia ingin ikut merawat mama saya yang tinggal seorang diri. Calon istri saya merasa kehilangan sang ibunda ketika sakit hingga ajal menjemput. Bisa jadi dengan hidup di Jember sembari merawat dan menemani mama saya, rasa kehilangan mendiang ibunda calon istri saya sedikit terobati.

Sebagai pencari sumbangan, gelar akademis saya A.Md berubah menjadi S.E. Bukan Sarjana Ekonomi, tapi Sobo Embong. Setiap hari saya dekati rekan sekolah, guru, kenalan, saudara untuk menjadi donatur dari usaha ZIS (zakat, infaq, sadaqah) YatimMandiri. Alhamdulillah, selama 10 hari saya SE, donasi yang saya kumpulkan melebihi target. Jumlah donasi tersebut kata rekan kerja saya merupakan donasi cukup baik sebagai karyawan baru dan tanpa modal. Karena beberapa rekan lainnya, ketika pertama kali menjadi tim fundraising pada bulan pertama, tidak mencapai seperti yang saya dapatkan itupun sudah dibarengi modal.

Dalam kondisi tersebut (bisa dibilang titik terendah dalam kehidupan saya) saya memberanikan diri untuk meminta pacar menjadi istri saya pada tahun ini. Rasa lelah dalam perjalanan Jember-Semarang-Jember selama 28 jam terbayar lega. Bukan paksaan dari calon istri saya untuk meminangnya, namun kondisi orangtua kami berdua yang sudah tidak lengkap, saya tersisa mama seorang yang semakin sepuh, sementara calon istri saya sudah yatim piatu. Harus saya akui, kondisi finansial saya belum layak untuk berumahtangga, namun selayak-layaknya finansial seseorang berumahtangga jika tidak ada keberanian mental membina rumahtangga juga tidak layak. Keinginan saya agar mama bisa menyaksikan pernikahan saya melebihi segalanya.

Kini, saya ditarik kembali ke Surabaya. Kota yang sama dengan tanggung jawab yang berbeda di 2013.

Selamat hari Senin, karena adanya Senin, akan ada weekend (-@histiani-)


via my mozArt

Kepuasan Memasak

Saya baru menyadari bahwa dalam memasak ada ragam unsur kimiawi yang kuat. Salah satu unsur itu adalah kepuasan batin.

Saya jadi merasakan bagaimana perasaan mama ketika beliau memasak dan saya tidak memakannya. Bisa jadi saya sudah makan di warung atau di traktir teman. Sekedar info bahwa porsi memasak mama saya bisa untuk 5 orang. Walau jumlah penghuni rumah Sumbersari sudah dua orang sepeninggal bapak saya. Alasan mama memasak dalam jumlah banyak, supaya keesokanharinya masakan hari ini tinggal dihangatkan.

Karena itulah setiap saya mudik, sebisa mungkin biar saya saja yang masak. Walau saya baru bisa sebatas masak air biar mateng untuk bikin sop, kopi, gesang, nasi goreng dan oseng-oseng. Setidaknya porsi masakan bisa saya tentukan sendiri. Mau sehari saja, tinggal masak nasi goreng. Mau dua hari bisa oseng-oseng dan gesang dan sop kombinasi ketiganya lah. Atau tiga hari sama ya terserah.

Alasan lainnya, bagi saya, lelaki yang bisa memasak adalah lelaki yang seksi. Saya lebih memilih disuruh memasak dibanding benerin genteng atau benerin motor mogok.

__
via email
Best Regards,
ainur rifqi || @angki

Jalan Kaki di Surabaya = Orang Gila

Dalam lima bulan terakhir, saya sering (atau kelewat sering) berjalan kaki dari kos ke kantor yang ditempuh selama kurang lebih 30 menit. Pertama kali memutuskan untuk mencoba jalan kaki, sesampai kantor, napas putus, keringat deras dan kaki beranak jadi empat. Keesokan harinya saya berhenti untuk berjalan kaki dan naik motor. Saya ulangi lagi lusa besok hari, napas masih saja putus-putus, namun peluh tidak sederas pertama kali jalan kaki. Saya ulangi besok lagi napas sudah tidak terlalu putus-putus. Bulan pertama jalan kaki porsi jalan kaki dan naik motor masih 30% jalan dan 70% naik motor dengan komposisi 2 hari jalan, 4 hari naik motor tiap minggunya.

Bulan kedua setiap saya tingkatkan porsi berjalan kaki menjadi 3 hari/minggu, selebihnya naik motor atau nunut Fahmi. Bulan berikutnya di tiap minggunya saya 4 hari berjalan kaki selebihnya naik motor. Pada bulan ketiga saat sudah punya mozArt yang canggihnya luar biasa, saya makin giat berjalan kaki. Aplikasi seperti Endomondo yang bisa menghitung jumlah kalori yang terbakar, jarak tempuh serta rute yang dipilih, serta lagu-lagu yang dimainkan membuat jalan kaki bisa sangat mengasyikkan.

Terlepas dari suhu Surabaya yang bisa mencapai 37° C, jalan kaki yang saya lakukan sangat nyaman dan menyenangkan karena faktor :

  1. Alas kaki alias sepatu yang menggunakan League.
  2. Trotoar yang saya lewati lebar.
  3. Jalur yang saya lewati rimbun karena banyak pepohonan besar.
  4. Pedagang es legen dekat kantor yang menyegarkan :lol:
Pada awal saya jalan kaki dari kos ke kantor banyak yang tidak percaya, secara waktu itu tubuh saya yang masih luas lebar. Selain ketidakpercayaan itu, ucapan wong sinting lebih santer terdengar :lol: . Hal positif yang bisa saya rasakan selama berjalan kaki, ketika saya duduk bersila selama dua jam, saya tidak mengalami kram atawa kesemutan a.k.a gringgingan. Manfaat lainnya, jika saya berkendara keluar kota (Sidoarjo) saya tidak capek sama sekali.
 
Bisa menggunakan celana ukuran 35 dan baju lama saya bisa muat kembali adalah bonus.
 
Cerita pertama di sini

Nonton Film Indonesia? Untuk Apa?

Ketika saya bertanya :
- Nonton film Endonesah nyok?
- Ngapain nonton film Indonesia? Bagusnya dimana? Paling kalo gak horor, ya porno.

Ya ya ya, saya pernah berujar demikian ketika film horor binti mistis dan porno bin erotik masih meraja di bioskop-bioskop. Terlebih film Warkop DKI mulai jarang diproduksi. Akhirnya para penonton film, mulai mengalihkan untuk hanya dan hanya jika film dari Hollywood. Karena dua genre film (horor dan porno) masih jadi favorit penonton. Bisa jadi biaya produksi film horor dan porno cukup di kuburan atau ranjang. Menurut saya tidak semudah itu deh.

Bicara tentang film Indonesia, saya punya film Indonesia favorit. Urutan terbaik dimari berdasarkan nomor urut, jadi nomor 1 adalah yang terbaik.

  1. Berbagi Suami
    Akhir film ini yang membuat saya berujar dengan lantang : “OOooooo”. Kenapa eh kenapa? Karena eh karena pemeran dan cerita kesehariannnya dalam film ini terkait dari awal hingga akhir film. Dan keterkaitan itu baru saya sadari mulai bagian pertengahan hingga akhir.
    Adegan Pak Haji (El Manik) bersama istri kedua Indri (Nungki Kusumastuti) makan malam di kedai bebek Koh Abun (Tio Pakusadewo) mulai membuka keterkaitan itu. Pak Haji dan istri pertama yaitu Dr. Salma (Jajang C. Noer) adalah pelanggan setia kedai bebek Koh Abun. Dalam adegan itu, Koh Abun dan istrinya Cik Linda (Ira Maya Sopha) bertanya ke Pak Haji; kemana ibu (Dr. Salma), kok tumben ndak ikutan makan. Keterkaitan berikutnya adalah saat istri-istri Pak Lik (Lukman Sardi) yaitu Sri (Ria Irawan) dan Dwi (Rieke Diah Pitaloka) memeriksa kandungannya ke Dr. Salma. Rupanya dengan dua istri Pak Lik masih kurang, hingga Siti (Shanty) sang keponakan, dinikahinya untuk jadi istri ketiga dan bertambah lagi hingga empat ketika Pak Lik pulang dari Aceh membawa oleh-oleh istri keempatnya. Koh Abun akhirnya juga memperistri Ming (Dominique) pelayan kedainya yang jadi primadona kedainya. Salma, Siti dan Ming tidak saling kenal dan mereka mengalami masalah kehidupan yang sama tentang poligami. Saya menaruh film ini di urutan pertama bukan saya pendukung poligami loh ya. Bagi saya, satu pasangan cukup alias jimat a.k.a siji dirumat.
    _
  2. Laskar Pelangi
    Kudunya film ini ditempatkan pada nomor urut satu. Alasan saya meletakkan di urutan dua terbaik adalah kekecewaan pembaca novel ini dengan versi filmnya. Saya sendiri sampai detik ini malah belum baca sama sekali novel Laskar Pelangi ini walau sudah jadi best seller berulang-ulang. Cerita perjuangan anak sekolah yang sekolahnya sendiri tersisa satu kelas dengan dua guru Bu Guru Muslimah (Cut Mini). Moral cerita film ini adalah perjuangan untuk meraih cita-cita dengan semangat sepenuh hati. Walau sekolah yang hanya satu kelas selama enam tahun, anak-anak laskar pelangi tetap berusaha untuk menjadi terbaik. Film ini berlanjut ke Sang Pemimpi. Dan karena saya tidak menonton film Sang Pemimpi, maka saya tidak tahu bagaimana alur cerita dan kelanjutan tokoh dalam Laskar Pelangi yang beranjak remaja atau mungkin dewasa.
    _
  3. Perahu Kertas
    Film ini sukses membuat saya melihat sebanyak tiga kali dengan rincian, dua kali di Perahu Kertas 1 dan sekali di Perahu Kertas 2. Tentu saja saya melihatnya bareng pacar tercinta. Sebagai film yang disadur dari novel kritik sana sini, atas bawah, depan belakang lebih terasa. Namun kadar kritikan film ini menurut saya masih di ambang batas normal. Hal itu dikarenakan, film ini dipecah menjadi dua episode sebab mempunyai durasi hampir 4 jam. Yah hampir mirip dengan film Matrix Reloaded (2) dan Revolution (3) yang kudu dipecah jadi dua. Kata Hanung sang sutradara film Perahu Kertas ini, jika dia memaksa menggunakan durasi film normal, hampir pasti banyak cerita dalam novel yang terbuang sempurna. Akhirnya dibuatlah seolah-olah film Perahu Kertas ini bersambung, padahal ya film ini dibuat dalam satu kali. Rupanya dengan memecah menjadi dua episode ini, penulis novel Perahu Kertas Dewi Lestari mengatakan bahwa film ini pelengkap dari novelnya terutama bagian penutupnya (ending). Beberapa orang yang sudah membaca novel Perahu Kertas mengatakan bahwa terutama Wanda dan Remi tidak dijelaskan akan berpasangan dengan bersama siapa usai Keenan dan Kugi bersama (kembali).
    _
  4. Ca Bau Kan
    Film ini adalah adaptasi dari novel dengan judul yang sama karangan Remy Sylado, yang merupakan penulis idola saya bangjeett. Saya lali-lali lupa cerita film ini kayak apa. Hampir sama seperti film-film lain yang diadaptasi dari novel, film ini juga tidak lepas dari kontroversi kesamaan cerita novel dan film. Asal tahu saja, buku-buku Remy Sylado bukan untuk golongan pembaca buku mainstream. Dari buku-buku Remy Sylado yang saya baca, keterikatan sejarah jadi ciri khas Remy Sylado. Sama Seperti flm Ca Bau Kan yang mengambil latar jaman penjajahan hingga kemerdekaan Indonesia tahun 1930-an sampai 1940-an. Cerita ini juga memasukkan kota-kota kolonial Belanda di Indonesia salah satunya adalah Semarang. Ca Bau Kan sendiri adalah prostitusi bagi warga Tionghoa berhidung belang di jaman penjajahan Belanda.  Tinung (Lola Amaria) merupakan Ca Bau Kan favorit di jamannya sejak ditinggal mati suaminya dan diusir dari keluarga sang suami. Saking populernya, Tinung dijadikan simpanan oleh juragan pisang  Tan Peng Liang di Batavia. Namun Tinung melarikan diri karena tidak betah dengan lingkungan  Tan Peng Liang. Selebihnya saya lupa karena buku entah kemana dan cari film ini setengah mampus.
    _
  5. Sang Pencerah : Film ini juga bagusnya gak sante, saking bagusnya saya sampai lupa lihat, lupa mengisahkan tentang apa. Setelah bergugling dan bernyahuu dan berngebing, Sang Pencerah bercerita tentang Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah di Indonesia. Dan entah kapan saya lihat versi DVD-nya.
    _
  6. Di Timur Matahari : Film ini berhasil membuat saya dengki berat dengan alam Papua yang fotogenik, pokoknya film ini bagus.
    _
  7. Film yang ada Lukman Sardi jaminan mutu keren berattt…

Bicara tentang film dan turunannya, saya pernah mengerjakan video klip dari komunitas saat masih bekerja Titik Api Production. Pra produksi video klip itu butuh konsep dan revisi dari tim kami dan komunitas cukup lama. Pemilihan lokasi, adegan demi adegan, skenario A-Z, pemain pendukung, durasi tiap adegan dan lain-lain dan sebagainya. Video klip itu direncanakan berdurasi 5 menit dan 15 menit. Untuk adegan 5 menit, akan digunakan untuk presentasi singkat dan 15 menit untuk ditayangkan ketika ada pameran atau presentasi. Setelah materi, pemeran dan sarana terpenuhi, tibalah untuk eksekusi. Rupanya untuk membuat cerita sepanjang 15 menit itu butuh 15 jam merekam adegan. Dari waktu subuh sampai isya. Seketika itu saya paham dan mengerti rasanya jadi sutradara, penulis skenario, produser dan rekan-rekan. 

Dan tololnya lagi orang-orang yang mengejek film Indonesia dan mendewakan film Holywood itu juga tidak paham akan film Holywood yang mereka lihat. Ketika film yang ditonton telah usai, lalu berdiskusi tentang film yang barusan dilihat sambil makan-makan, orang-orang tersebut bilang,
“Pokonya bagus, itu tadi yang ganteng bodynya atlantis, keren yak?”.
“Loh film ini lanjutan dari yang sebelumnya toh?”

Kwarepmyu…..!!!