Lingkungan Asri dan Terintegrasi di Citra Harmoni Sidoarjo

Ketika berkunjung ke Perumahan Citra Harmoni Sidoarjo, saya menangkap perumahan ini sudah terintegrasi. Berbeda dari beberapa perumahan lainnya, Citra Harmoni sudah menerapkan sistem tematik untuk tiap clusternya. Hal ini memiliki keunggulan yaitu mempermudah calon konsumen mengingat lokasi yang akan dipilih sebagai huniannya. Selain itu, RTH, kemudahan akses dan fasum yang terintegrasi sudah dirancang untuk  para penghuninya seperti uraian berikut.

• TEMATIK

 

Sistem tematik ini juga mempermudah tamu atau kurir untuk berkunjung menemui tuan rumah. Tinggal mengingat nama cluster serta blok dan nomor rumah, maka tamu atau kurir dapat langsung menuju alamat yang dituju. Setiap cluster sudah ada penjaga satuan pengaman (satpam) yang menjaga pintu gerbang tiap cluster. Bisa dipastikan hunian di CItra Harmoni Sidoarjo ini aman.
Saya berkunjung ke dua cluster di Citra Harmoni ini yaitu Cluster Stamford dan Cluster Riverside. Pemandangan sejuk pepohonan di kanan kiri cluster ini sungguh memanjakan mata. Serta adanya kolam ikan mas di cluster Riverside membuat anak-anak betah untuk bermain di sana. Dengan jembatan lengkung dan kolam buatan yang sudah didesain menarik untuk bercengkrama bersama tetangga.

• AKSES STRATEGIS

Akses menuju Perumahan Citra Harmoni Sidoarjo ini, mudah diakses dari Surabaya. Jika Anda penganut angkot mania atau bis mania akan dipermudah lokasi Perumahan Citra Harmoni ini. Tinggal keluar komplek perumahan, bis bis AKAP-AKDP, angkot serta bis Ijo yang menuju Surabaya berseliweran siap mengangkut. Hal inilah membuat lokasi Perumahan Citra Harmoni Sidoarjo ini strategis.

• RUANG TERBUKA HIJAU


Hal berikutnya yang membuat nyaman adalah RTH (ruang terbuka hijau) yang teradapat di tengah-tengah cluster. Di RTH ini terdapat arena bermain untuk nak-kanak children. Selain arena bermain untuk anak-anak, di RTH ini tersedia untuk yang remaja dan dewasa berupa alat gym outdoor berupa angkat beban (duh maaf saya lupa apa nama resmi alat beban ini), walking treadmill (ini juga lupa apa namanya). Dan untuk penggemar sepada, semua jalan akses di Citra Harmoni ini sudah ada jalur sepeda ya. Jadi jargon Green Living Harmoni memang benar-benar adanya.

• FASILITAS UMUM

Di Perumahan Citra Harmoni Sidoarjo ini juga sudah dilengkapi Fasum (Fasilitas Umum), tempat ibadah, sekolah dan tentunya Wahana Air alias Water Park. Woww lingkungan kumpit-plit sudah disediakan pengembang Ciputra agar pengunjung betah. Untuk urusan belanja, tenang aja, ada ruko dan rukan di pintu gerbang pintu masuk Citra Harmoni Sidoarjo. Di luar pintu masuk kalau pagi ada pasar kaget juga.  Selain mini market yang tersedia di sana, ada juga ATM, klinik, restoran dan pangkalan taxi O-Renz siap melayani penghuni lo.

Oiya satu lagi Fasum yang akan segera hadir yaitu Harmoni City Center (HCC). HCC ini sudah dibangun di lokasi yang tersedia. Dan sudah ada tenant yang mengisi HCC, mulai laundry, kurir, restoran, toko kelontong. Masalahnya adalah, lokasi HCC dan Citra Harmoni Sidoarjo masih terpisah oleh rel kereta api. Untuk itu, saat ini sedang membangun jalan layang (fly over) yang melintasi rel tersebut. Sehingga saat ini, untuk menuju HCC, harus keluar ke jalan utama Surabaya-Mojokerto dahulu. Setelah fly over ini jadi, penghuni Citra Harmoni tinggal melewati jalan fly over itu untuk menuju HCC tanpa perlu keluar komplek.

 

#citraharmonisidoarjo #greenlivinginharmony #blogcompetitionindonesia

Advertisements

Menjadikan Hobi Sebagai Profesi : Kesalahan Fatal

hobi-sebagai-profesi
Pertama kali mendengar kalimat itu “Menjadikan Hobi Sebagai Profes : Kesalahan Fatal”  membuat saya menolak untuk setuju. Loh bukankah itu menjadi impian semua banyak orang bahwa hobi yang dia jalankan menghasilkan pundi-pundi uang dengan cara kerja yang sesuai selera.

Penjelasan itu didapat dari pemateri pelatihan komunikasi yang saya ikuti di Jakarta.Menurut si pemateri, hobi itu adalah kegiatan yang dikerjakan dengan sukacita gembira ria tanpa ada tekanan dan paksaan. Ketika menjalankan hobi penuh paksaan, aturan dan tekanan disitulah hobi bukanlah hobi lagi. Dia mencontohkan seorang sahabatnya (sebut saja namanya Joko) yang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan sebagai konsultan dan beralih profesi menjadi penulis jalan-jalan.

Awalnya Joko yang memiliki hobi fotografi itu melakukan jalan-jalan keliling Indonesia di akhir pekan saja. Seiring berjalannya waktu, hasil foto-foto yang dipotret oleh Joko diminati oleh beberapa situs agen perjalanan, situs jalan-jalan serta majalah baik dalam negeri atau luar negeri. Tawaran demi tawaran untuk melakukan perjalanan ke suatu tempat bertubi-tubi menghampiri Joko. Bahkan nominal rupiah yang diterima Joko melebihi nominal gaji bulanan yang dia terima sebagai konsultan.

Dengan percaya diri dia mengajukan pengunduran diri ke perusahaan konsultan tempat dia mengabdi selama 10 tahun untuk fokus ke pekerjaan sebagai penulis fotografi dan jalan-jalan. “This is my way” ujarnya.

Awal menekuni profesi ini, Joko amat sangat antusias. Semua kanal media sosial miliknya penuh foto-foto pemandangan, makanan, selfie, POI, human interest. Pokoke foto sing apik-apik kabeh.

_________________
Setelah setahun menjalani profesi baru ini, Joko tidak bisa merasakan nikmatnya profesi yang dia bangga-banggakan setahun lalu.

Berangkat pada pagi buta, akomodasi yang sering berbeda dengan kesepakatan, alur perjalanan yang padat, tujuan wisata yang harus dikunjungi, cuaca yang kurang mendukung, penundaan penerbangan pesawat yang kerap, belum laporan keuangan yang harus dia buat usai perjalanan, tulisan yang wajib disetor ke media, pengolahan gambar dan video (video & photo editing) semua harus harus selesai dalam kurun waktu seminggu.

Sampai pada satu waktu Joko berkata ke pemateri pelatihan komunikasi saya, bahwa dia ingin menikmati perjalanan yang dia datangi, tanpa perlu diwajibkan ini itu, laporan gono gini, perjalanan sana sini, seperti ketika melakukannya di akhir pekan.

Dari penjelasan Joko ini, pemateri komunikasi ini menjelaskan bahwa setiap pekerjaan pasti ada konsekuensinya. Akhirnya pemateri komunikasi ini memberikan solusi kepada Joko untuk mengubah “Hobi Sebagai Profesi” menjadi “Hobi Sebagai Bisnis”

Saya bertanya ke pemateri, “Bukankah itu sama saja om?”

Pemateri menjawab, Beda. Kalo profesi Anda yang jadi pelaku pekerjaan, kalo bisnis Anda yang mengendalikan.

“Jadi, apa profesi Joko sekarang oom?”

Dia sekarang menjadi kontibutor tulisan media perjalanan, agen tiket perjalanan dan EO perjalanan wisata perusahaan-perusahaan, mendirikan pelatihan fotografi dan pengolahan foto-video bagi sekolah-sekolah. Dan dia cerdas dalam mengolah usaha EO Perjalanan itu.

“Caranya gimana oom?”

Dia meminta semua peserta di setiap EO perjalanan wisata itu untuk mengirimkan beberapa foto yang diambil oleh peserta jalan-jalan ke emailnya. Nanti foto-foto itu yang dijadikan bahan tulisan ke media. Kini Joko bisa melakukan perjalanan wisata yang dia tentukan sendiri, dengan foto & video yang beragam dan tanpa laporan ini itu. Karena semua laporan sudah dibuat oleh admin EO-nya.

Moral cerita : Saya lupa nama pematerinya
Model foto : Iman Brotoseno

Maksimalkan Peluang

Jpeg

Sesi Angki bertanya dan Don Hasman menjawab by Eddy Fahmi (@efahmi)

Pada hari Sabtu 21 Maret 2015 pagi, sahabat karib kita-kita semua mas paman Efahmi menghubungi saya, bahwa ada acara seminar dan pameran foto oleh komunitas Matanesia dengan tema “Warna-Warni Nusantara” di pasar modern wilayah Surabaya Selatan sono. Pada awalnya saya biasa saja ketika tahu bahwa ada acara pameran foto, lalu sepertinya (calon) anak saya dan ibunya pengen jalan-jalan, yasud saya agendakan untuk datang kesana. Ketika saya tanya, siapa pembicara seminar hari ini, rupanya pembicara pertama adalah Ray Bahtiar dengan tema Fotografi Komersial dan Budaya.

Saya tahu Ray Bahtiar, ketika profesi saya masih jadi tukang foto keliling. Dia adalah pengasuh rubrik di majalah “CHIPs Foto – Video”. Entah saat ini, dia masih jadi pengasuh majalah tersebut atau sudah pindah tempat kerja.

Lalu mas Paman Fahmi manambahkan, pembicara seminar kedua adalah Don Hasman.

Wait

What?

Don Hasman?

Iyeee Don Hasman.

Tanpa kompromi, saya langsung semangat rongewulimolas untuk wajib kudu datang. Secara, Don Hasman getoooo…

Sejak kenal dunia jeprat-jepret, para tukang foto keliling amatir dan fotografer profesional selalu bercerita tentang Don Hasman. Sedikit-sedikit Don Hasman, Don Hasman kok sedikit-sedikit. Bahkan rekan setim tukang foto saya pernah kerja bareng ama Oom Don. Yang paling diingat oleh rekan saya itu “Napasnya panjang beneerrr”.

Saya pernah baca artikel perjalanan Don Hasman, ketika dia napak tilas dalam acara tahunan (maaf saya lupa) untuk masyarakat Katholik dari Prancis sampai Spanyol yang menempuh jarak 1000 km dengan jalan kaki. Iya J.A.L.A.N K.A.K.I (((JALAN KAKI)))

Akhirnya pada acara seminar itu, Oom Don cerita panjang kali lebar kali tinggi tentang fotografi Indonesia dan luar negeri. Bahkan ada proyek fotografi dari rekan Oom Don yang rencana akan jadi buku masih belum selesai. Dan AAT (asal Anda tahu – FYI) proyek itu sudah dimulai sejak tahun 197x (entah benar atau kurang tepat) masih belum kelar sampai tahun 2015 ini. Dan tentu saja acara napak tilas Prancis sampai Spanyol dibahas di seminar ini.

Hingga ketika seminar sudah akan usai, namun napas oom Don Hasman untuk berbagi seakan tak mau selesai. Akhirnya slide demi slide presentasi perjalanan karir fotografi petualangan oom Don Hasman dipercepat. Padahal ketika acara mau usai, slide presentasinya masih 1/5 dari total presentasinya. Belum lagi panitianya kalang kabut, jadi gak nyaman mendengarkan presentasi oom Don Hasman.

Sesi acara yang saya tunggu-tunggu akhirnya tiba

Makan-makan Ki?

Hushh bukan keleus, sesi tanya jawab.

Begitu MC bertanya adakah pertanyaan untuk Oom Don, langsung saja saya angkat kaki eh tunjuk tangan paling tinggi. Akhirnya ditunjuklah saya. Agak kagok juga ketika MC memberikan mikofon kepada saya, sambil berpikir. “Busyet tanya apaaan nih”

Berikut pertanyaan saya :

Gini Oom Don, saya pernah baca artikel tentang perjalanan napak tilas oom Don dari Prancis ke Spanyol itu, dan saya punya dua pertanyaan nih Oom

  1. Pada waktu perjalanan Oom Don dari Prancis ke Spanyol itu, apakah ada peserta dari Indonesia selain oom Don?
  2. Apakah selama perjalanan tersebut oom Don bertemu dengan hal-hal mistis gitu oom? Kan kalo di Indonesia ada gondoruwo, tuyul dan sebangsanya gitu oom. Kali aja ketemu drakula di sana :mrgreen:

Dan jawabannya sungguh mempesona, gile lu ndroo.

Akhirnya acara seminar dan pameran foto itu usai dengan acara foto bareng ama pembicara Oom Don Hasman. Saya sengaja tidak ikut acara foto bareng, karena sesi tanya jawab antara saya dan Don Hasman lebih berkesan daripada foto bareng. Nah ketika saya tanya-jawab kan sudah difotoin ama mas Paman Fahmi 😉

Moral cerita : Ketika peluang (datang ke seminar) dan usaha (tunjuk jari untuk bertanya) bertemu -kata motivator kondang- itu yang dinamakan SUKSES. Jadi Maksimalkan Peluang dengan usaha yang semangat. Karena menyia-nyiakan peluang, akan datang penyesalan.

halah ea ea ea