Kurang Piknik = Kurang Bersyukur

Ketika libur Imlek yang bertepatan dengan hari Jumat, bisa dipastikan itu dinamakan libur akhir pekan panjang a.k.a long weekend. Sementara saya tidak kemana-mana karena Sabtu masih masuk dan tentu saja sambil bikin dompet. Pengen nulis status “Kurang Piknik” kayak man teman lain yang rumangsa hidupnya seberat 2 ton, penuh masalah tak bertepi, kehidupan yang tak memihak an de bre en de bre.

Namun saya batalkan sambat “Kurang Piknik” itu.

Ketika menikmati sarapan nasi campur telur bali, saya terkejut melihat foto yang masuk di WA.

Rekan bisnis saya menjadi tahanan. Iya T.A.H.A.N.A.N alias dipenjara.

Dalam foto yang saya terima, terlihat rekan bisnis saya itu (sebut saja namanya pak Jail) dalam sel yg berdesakan, makan sepiring bertiga, rambut dipetal. Tidak tahu sebab musabab tindak pidana apa yang diperbuat pak Jail hingga masuk penjara. Saya masih mencari informasi dari rekan-rekan yang lain perihal waktu dan lokasi kejadian hingga pak Jail dipenjara.

Seketika saya bersyukur sebesar-besarnya atas kondisi saya saat ini. Sempet mbrebes mili ketika melihat foto kondisi pak Jail di dalam penjara. Bisa dipastikan bisnis katering dan agen perjalanannya bangkrut. Saya tidak tahu kondisi keluarganya saat ini.

Moral cerita: “Lihatlah kondisi orang lain (yang kurang beruntung) sebelum mengeluh, bisa jadi ada orang lain yang hari ini tidak tahu mau makan apa, nanti malam tidur di mana, besok pindah kemana.”

“Pengalaman memang guru terbaik, tapi tak harus menunggu mengalaminya sendiri untuk hal-hal yang buruk.”

Sudahkah kamu bersyukur hari ini?

Kartu Pos

Kartu Pos

Semenjak kalender kantor bapak perusahaan yang setengahnya kartu pos, saya & istri jadi rajin menulis kartu pos. Kami mengirimnya ke saudara, teman kuliah, teman sekolah, teman blog, dan sahabat pena digital lainnya. Kalo mau mengirim kartu pos ke luar negeri sila registrasi di Postcrossing, kalo yang di Endonesia sila registrasi di Cardtopost. Dan ternyata kami sudah mengirim 17 (tujuhbelas) kartu pos (dan berlanjut).

Berkirim kartu pos ternyata membuat tulisan saya semakin baik (ceileeeeh), serta membuat hobi filateli jaman SMP & SMA kembali tumbuh. Selain itu, kartu pos yang diterima bisa dijadikan koleksi selain perangkonya.

Kartu pos yang sudah dikirim :

  1. Mama
  2. Tante Ina (Chairina)
  3. Admin Socmed PT. POS Indonesia
  4. Sabine
  5. Elvi Bandanaku
  6. Linda Leenk
  7. Vie Kusuma
  8. Indah Purnama
  9. Nabila Firdausi
  10. Oelpha
  11. Gea Laksita
  12. Dhyanayu Almitra
  13. Selvia Latuconsina
  14. Didik Yulianto
  15. Tianda
  16. Novpras (KingKing)
  17. Olivia Indah (oliphoph)

Kartu pos yang sudah saya terima

  1. Admin Socmed PT. POS Indonesia
  2. Gea Laksita
  3. Wahyi Dwi Ulfa

Apakah kamu mau saya kirimi kartu pos? Silahkan mention saya @angki atau komentar di blog ini beserta alamat dan kartu pos secara lengkap ya dan kutunggu balasan kartu posmu 😉

Kesempatan, Karir dan Keluarga

Sekitar tiga bulan terakhir ini, pada rentang tanggal 5-15 setiap bulannya, saya  menjadi tahanan gedung untuk asistensi, revisi dan pembuatan laporan. Selama sehari penuh saya harus membuat, merivisi, mencetak dan menjilid laporan yang setebal kerdus komputer jinjing sambil daring doms *teuteup* :mrgreen: .

Pada waktu asistensi dan revisi tersebut, salah satu engineer bertanya kepada saya perihal untuk mencari pekerjaan baru. Apa? Cari kerja lagi? Saya bertanya balik, atas dasar apa pertanyaan tersebut diajukan kepada saya? Dia memberi jawaban standar, bukankah setiap orang berhak untuk mencapai karir yang lebih baik.

Oke, saya sependapat dengan hal ini. Namun saya sendiri, belum terpikirkan untuk pindah kerja lagi. Pengalaman saya di dunia migas masih bibit. Butuh pupuk ilmu dan siraman pengetahuan agar bibit tersebut tumbuh dan berkembang.

Engineer bertanya demikian kepada saya, karena banyak rekan di kantor pusat Jakarta pada pindah ke perusahaan migas asing atau ke kompetitor. Dia juga berucap, pilihannya Indonesia Timur, Indonesia Barat atau Jakarta.

Hmmmm, kota Jakarta kembali muncul.

Sebulan atau dua bulan lalu, saya ditawari untuk mutasi ke Jakarta sebagai penyelia jaringan pipa gas baru di wilayah Sumatra. Namun saya menolak tawaran tersebut, karena saya dan calon istri sepakat bahwa hidup berkeluarga di Jakarta butuh perjuangan ekstra keras dan ekstra sabar. Sementara saya bukan tipe penyabar, saya adalah tipe penyanyang dan penuh cinta *halah*.

Macet

Tua di jalan

Kehidupan yang egosentris yang membahana.

Hidup kehidupan di Jakarta cocok untuk orang yang belum berkeluarga bin bujang binti jomblo. Kalaupun ada keluarga yang bisa hidup di Jakarta sungguh luar biasa. Biaya rumah atau apartemen yang membumbung tinggi membuat para pekerja Jakarta harus berumahtangga di Jakarta coret. Waktu tempuh (kata teman dan saudara) sekitar 2-4 jam dari rumah Jakarta coret ke tempat kerja di Jakarta, bagi saya sebagai orang Jawa Timur keterlaluan. Jarak tempuh Sidoarjo-Surabaya saja kondisi macet parah bisa ditebus dengan waktu 1 jam.

Engineer saya berpendapat kalau demikian, keluarga adalah penghambat karir. Saya jawab tidak. Setinggi apapun karir seseorang jika tanpa dukungan kelurga juga percuma. Apalah arti karir mentereng namun kehidupan keluarga berantakan karena waktu untuk keluarga hanya Sabtu, Minggu dan hari besar. Senin sampai Jumat, waktu terbuang di kantor dan jalan. Akhirnya anak menjadi anaknya pembantu atau baby sitter. Itu kalau punya anak, kalau belum dikaruniani anak karena kondisi untuk berasyik masyuk setiap malamnya letoy gegara kecapekan di jalan? Nah, siapa tahu. Namun saya bukan antipati terhadap kota Jakarta, karena kakak saya pun pernah mencicipi geliat hidup keras di Jakarta. Jika suatu saat nanti saya akan ditarik ke kantor pusat, tentu saya akan mempertimbangkannya.

Moral Cerita : Rejeki dan jodoh tak akan kemana, karena itu kejarlah. Jika sudah dapat rejeki, kejarlah jodoh, begitu juga sebaliknya. Berlaku untuk semua zodiak.

Perihal Ujian

Kualitas hidup manusia haruslah semakin baik. Bahkan hadist rasul beberapa abad lalu yang kurang lebih berbunyi, jika hari ini sama dengan kemarin, sesungguhnya masuk golongan merugi. (kalo keliru mohon dimaaf yee cyn)

Bicara soal ujian, tahun 2013 merupakan ujian terberat bagi saya. Penghujung 2012 yang dilalui dengan #UnoHore bersama pacar begitu indah. Lalu di awal 2013 sesuai permintaan saya sendiri untuk pindah divisi yang tidakadamakhlukbernamasedotan akhirnya dikabulkan dengan metode libur dahulu. Rupanya nasib tempat saya bekerja bersama @efahmi semakin hari semakin suram. Akhirnya ditariklah saya untuk menjadi trainer di Jakarta, namun saya tolak karena nominal gaji yang saya terima sama dengan di Surabaya.

Akhirnya saya memutuskan untuk menjadi fundraising team (bahasa gampangnya : pencari sumbangan) di Jember. Sebelum memilih profesi ini, saya bertanya kepada pacar calon istri saya, “Maukah seusai menikah, hidup berkeluarga di Jember?” tanpa jeda napas calon istri saya berujar : “Mau”

Saya terharu dibuatnya. Kekhawatiran akan hidup serba ada dan apa-apa ada di Jakarta sempat terbesit di benak saya. Calon istri saya berargumen bahwa dia ingin ikut merawat mama saya yang tinggal seorang diri. Calon istri saya merasa kehilangan sang ibunda ketika sakit hingga ajal menjemput. Bisa jadi dengan hidup di Jember sembari merawat dan menemani mama saya, rasa kehilangan mendiang ibunda calon istri saya sedikit terobati.

Sebagai pencari sumbangan, gelar akademis saya A.Md berubah menjadi S.E. Bukan Sarjana Ekonomi, tapi Sobo Embong. Setiap hari saya dekati rekan sekolah, guru, kenalan, saudara untuk menjadi donatur dari usaha ZIS (zakat, infaq, sadaqah) YatimMandiri. Alhamdulillah, selama 10 hari saya SE, donasi yang saya kumpulkan melebihi target. Jumlah donasi tersebut kata rekan kerja saya merupakan donasi cukup baik sebagai karyawan baru dan tanpa modal. Karena beberapa rekan lainnya, ketika pertama kali menjadi tim fundraising pada bulan pertama, tidak mencapai seperti yang saya dapatkan itupun sudah dibarengi modal.

Dalam kondisi tersebut (bisa dibilang titik terendah dalam kehidupan saya) saya memberanikan diri untuk meminta pacar menjadi istri saya pada tahun ini. Rasa lelah dalam perjalanan Jember-Semarang-Jember selama 28 jam terbayar lega. Bukan paksaan dari calon istri saya untuk meminangnya, namun kondisi orangtua kami berdua yang sudah tidak lengkap, saya tersisa mama seorang yang semakin sepuh, sementara calon istri saya sudah yatim piatu. Harus saya akui, kondisi finansial saya belum layak untuk berumahtangga, namun selayak-layaknya finansial seseorang berumahtangga jika tidak ada keberanian mental membina rumahtangga juga tidak layak. Keinginan saya agar mama bisa menyaksikan pernikahan saya melebihi segalanya.

Kini, saya ditarik kembali ke Surabaya. Kota yang sama dengan tanggung jawab yang berbeda di 2013.

Selamat hari Senin, karena adanya Senin, akan ada weekend (-@histiani-)


via my mozArt

Menentukan Hari Baik


Dalam menentukan hari baik, banyak faktor yang mempengaruhi. Jika di Indonesia, (suku-suku seperti yang saya tahu adalah suku Jawa) yang berpengaruh besar yaitu “weton” jadi penentu dalam menentukan hari baik.

Orang Jawa menentukan hari baik untuk banyak hal. Pindahan rumah, selamatan, pidato dan tentu saja pernikahan. Jika ditilik lebih dalam, hal ini bisa berakibat hal klenik dan menjurus ke syirik. Karena melihat dari sejarah, masyarakat Jawa dalam menentukan hari baik menggunakan sesajen dan puji-pujian. Lalu saya sedikit mengubahnya ke dalam bentuk logis. Jika akan menentukan acara A, maka kita harus tahu, apakah acara A itu butuh hujan atau kering? Kalau kering, ya dipilihlah acara A di bulan kemarau yang bisa dimulai pada bulan April-September. Kalau ingin dingin, ya dipilih aja acara A pada malam hari. Ya seperti itulah kira-kira,

Lalu untuk menentukan hari baik untuk menikah, misalkan seorang lelaki bernama Kiki Safiqri yang lahir pada 10 Nopember 1985 dan Any Sulistiani yang lahir pada 26 April 1984. Menurut weton Jawa, Kiki lahir di Minggu Legi, sementara Any, lahir di pada Kamis Pon. Mereka berada dalam naungan cinta bersemi mekar sepanjang hari. Berdasarkan inilah, mereka berdua cocok untuk menikah di tanggal bagus, bulan baik dan tahun benar.

Saya ambil contoh keluarga saya, dalam menentukan tanggal pernikahan kakak-kakak saya semua diserahkan pada pihak keluarga mertua. Hal ini karena orang tua kami bukan ahli dalam menentukan weton yang demikian. Kata mendiang bapak saya, semua tanggal itu baik. Apa karena keluarga saya ini Madura kali ya, ndak ngerti soal wetan-weton. Etapi mendiang nenek saya ahli dalam hal beginian. Apa ikutan juga menentukan hari baik pernikahan kakak-kakak saya kali ya? Kalau ini saya ndak tahu 😀

Moral Cerita : tanggal pernikahan yang baik dan benar adalah mempelai wanita tidak dalam masa menstruasi.


via my mozArt

Ramadhan Telah Usai


Ramadhan 1433 H yang permulaanya beda penetapan 1 Ramadhan alias awal berpuasa telah usai. Ramadhan kali ini sungguh berbeda dibandingkan dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Untuk pertama kalinya seumur hidup, saya baru melaksanakan i’tikaf bahkan hingga dua kali. Doa yang saya utarakan masih berhubungan dengan rejeki dan jodoh.

Di i’tikaf yang kedua saya merasakan hal yang berbeda dibanding i’tikaf yang pertama. Ketika Imam masjid berdoa:

……Ya Allah, berikanlah hamba umur hingga bertemu dengan Ramadhan berikutnya ……..

Seketika air mata saya berlinang dengan deras dan langsung teringat mama saya. Setiap doa yang saya utarakan kepada Tuhan, saya hanya meminta kepada Tuhan agar mama saya diberi kesehatan hingga saya menikah. Kalaupun takdir berkata lain, ijinkanlah mama saya bisa mengenal calon menantunya yang akan mendampingi saya kelak.

Usia mama saya sudah menginjak 65 tahun dan itu adalah usia yang sangat rawan. Semakin rawan sesuai Idul Fitri menuju Idul Adha. Saya kehilangan bapak dan nenek yang tutup usia dalam rentang waktu Idul Fitri hingga Idul Adha tersebut dalam 4 tahun lalu secara beruntun. Jika mengingat saat kehilangan bapak dan nenek saya, ada perasaan lega yang saya rasakan di benak beliau berdua. Bapak saya meninggal pada tahun 2008 ketika saya sudah diwisuda bahkan sudah bekerja sebelum diwisuda. Lalu disusul nenek saya di tahun berikutnya. Menurut saya, kepergian beliau berdua sudah diatur Tuhan ketika putra dan cucu terakhir kebanggaan ini telah usai mengemban kewajiban menuntut ilmu dan sudah bisa mencari nafkah.

Tinggal mama seorang di Jember.

Semoga doa-doa yang saya utarakan dikabulkan Tuhan dan alam semesta berpartisipasi mendukung doa-doa saya tersebut. Diimbangi juga dengan usaha mendapatkan pendamping. Entah pendamping saya nanti berasal dari jauh atau dekat, lebih muda atau lebih tua, karyawan atau pemilik usaha. Entah.

Dan Ramadhan kali ini, saya melaksanakan malam takbiran di jalan. Saya mudik ke Jember H-1 alias pada tanggal 18 Agustus 2012. Saya tidak tahu apakah besok Idul Fitri atau masih tanggal 20 Agustus seperti tahun lalu.

Dan saya juga mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin atas segala tulisan saya yang mengusik perasaan Anda dengan sengaja dan/atau kebetulan. Toh jika Anda tidak suka dengan blog saya ini dan blog sebelah, Anda bisa berhenti berlangganan atau berhenti mengikuti blog saya ini.


from my mozArt

Ramadhan 1433 H


Saya memutuskan untuk mengikuti puasa Ramadhan 1433 H versi Pemerintah yaitu, Sabtu, 21 Juli 2012. Pihak Muhammadiyah sudah melaksanakan puasa Ramadhan 1433 H kemarin (20 Juli). Lagipula, KTP saya dibuat oleh Pemerintah Republik Indonesia. Biarlah perbedaan itu jadi yang terbaik. Toh sebagai makmum yang baik, ke surga nunut, ke neraka katut.

Bicara tentang puasa, selama empat tahun terakhir saya melaksanakannya di empat lokasi kerja yang berbeda. Yang pertama, sebagai abdi dalem pemerintah Surabaya. Di rentang waktu ini saya mengenal Dian Okta. Balada bukber dengan bumbu arloji Agis masih membekas di ingatan saya. Saksi teteh Gina dan cak Helman yang menambah balada itu. Ah sudahlah.

Yang kedua saat saya bekerja sebagai desain grafis rangkap marketing di usaha Open Source, CV Ardini Mandiri. Di tempat inilah, pola pikir saya di dunia komputer dipelintir. Tentu dengan pelintiran yang halal. Di tempat biasa ini saya mendapat ilmu yang sangat luar biasa. Pengguna Linux yang minoritas dapat memberikan dampak mayoritas. Di tempat kedua saya ini, ada pengalaman sahur bareng komunitas bloger Jember untuk penjaga perlintasan kereta api.

Yang ketiga, saat saya berada di perusahaan susu dan yoghurt di Jember juga. Oh iya, draft tulisan saya tentang perusahaan ini masih sampai paragraf pertama. Entah ada rasa enggan untuk meneruskan tulisan itu. Dan dari tempat ini juga, saya mengenal fotografer perempuan Elfira yang luar biasa.

Yang keempat alias saat ini, saya kembali ke kota pada cerita saya yang pertama di tulisan ini yaitu Surabaya. Belum ada cerita di bulan Ramdhan 1433 H. Lah iya, baru pertama sahur owk.

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1433 H.

Salam HOK YAAA…!!!