Antara Prestasi dan Apresiasi

​Beberapa waktu lalu, sepupu saya yang kira-kira sudah 3 windu berada di negara Bavaria datang ke Indonesia. Kemudian menghubungi saya untuk bertemu. Secara, saya menemukan sepupu saya ini dari gambar silsilah yang saya gambar ulang. Sehingga sepupu saya ini penasaran sama pembuat menggambar ulang silsilah itu.
Setelah bincang urusan keluarga selesai, sepupu saya bertanya kepada saya perihal aplikasi yang saya buat berbasis Android. Karena selama proses pembuatan alat itu, saya banyak berkonsultasi dengan dia. Saya bingung, lalu saya jawab, lah ya sudah selesai. Begitu kompetisi usai, mangkraklah aplikasi saya itu.
Sepupu saya kembali bertanya, 

“Kok bisa? Harusnya hal semacam itu kudu dikembangkan, apalagi jadi salah satu pemenang. Kalo bukan pemenang, ya wajar diabaikan.”

Saya kesulitan menjawab, lalu saya jawab, “Ya mau gimana lagi mas, bisa aja aplikasi saya masih disimpan untuk dikembangkan lagi. Entah kapan”.

Kemudian sepupu saya bertanya lagi, “Naik pangkat dong sekarang sejak jadi pemenang?”

Saya jawab, “Boro-boro naik pangkat, (apalagi naik gaji), saya sudah tidak kerja di sana lagi masa”.

Dan bertanya lagi, “Lhaaa kok bisa?”

Saya tidak menjawab, karena sepupu saya akan berangkat ke gedung untuk persiapan acara pernikahan anaknya.

Moral cerita: Sebuah cerita yg terinspirasi Ricky Elson.

Note: Hal ini juga terjadi di beberapa teman sekolah kuliah saya yg ada di turunan BUMN (dan turunannya lagi). Baik bank, minyak & gas, transportasi, perkebunan.

Advertisements

Evaluasi Bisnis

evaluasi_bisnis

Pada awalnya ragu akan menulis evaluasi bisnis ini. Alasan (setan) saya adalah,
“Ngapain juga nulis evaluasi bisnis, kek yang udah gede aje”
“Wong orderan ndak mulus gitu kok mau bikin evaluasi bisnis”

Lalu (malaikat) saya berbisik,
“Heh ndul, orang bisa sukses karena belajar dari kesalahan masa lalu. Mau seberapa lama bisnis berjalan, evaluasi itu penting untuk mengurangi resiko dan meningkatkan potensi”

Oke akhirnya bisikan malaikat itu saya turuti. Dan evaluasi bisnis ini juga sebagai panduan biar ndak tersesat dan tak tahu jalan pulang -Cakra Khan-

——

Tak terasa, bulan Pebruari 2015 kemarin, usaha bisnis pembuatan tas dan dompet “Finish” sudah berusia setahun. Pada awalnya saya bingung, kapan deklarasi saya memulai bisnis ini. Karena awal mula bertemu dengan penjahit tas juga lebih dari setahun. Yang artinya sebelum Pebruari 2014, saya sudah bertemu dengan si penjahit.

Akhirnya saya lihat-lihat lagi blog Finish, ternyata awal saya posting tulisan tas pertama adalah 14-Pebruari 2015. Ya sudah, tanggal itu saja yang dijadikan awal memulai bisnis ini :mrgreen:

Berikut evaluasi bisnis yang akan jadi rujukan untuk tahun-tahun berikutnya.

  1. Material
    Setelah mencoba beragam material seperti kulit, kanvas, vinil & kulit sintetis. Saya memutuskan untuk fokus pada kulit (sapi, domba, kambing) saja. Pertimbangan hanya memilih bahan baku dari kulit saja karena faktor kuantiti yang lebih kecil ketimbang bahan yang lain. FYI harga satu feet (28 x 28 cm) kulit sama dengan 1 meter bahan yang lain.
    -Lho berarti lebih mahal doms?
    Memang lebih mahal, namun dengan harga selembar kulit sekitar 600rb, saya bisa menyimpannya di kamar kontrakan saya ketimbang saya harus beli satu glondong bahan lain. Dengan menggunakan kulit, saya tidak perlu membeli material pendukung seperti karton atau karet agar produk terlihat kaku. Karena material kulit sendiri, sudah kaku.
    Moral cerita : Fokus di satu material : KULIT
  2. Jenis Produk
    Lanjut ke jenis produk, setahun lalu, saya dengan pedenya berujar kepada dunia (halah lebay), bahwa saya menerima pembautan eh pembuatan segala macam bentuk, model tas dan dompet dari klien. Akhirnya usut-usut punya usut, saya kusut binti kelabakan menerima pesanan dan makin kusut menterjemahkan model produk dari klien ke pak penjahit.
    Dari diskusi dan gojek kere jancukan bersama kompetitor (baca : ODD Leather punya Ridho), ternyata dia hanya membuat dompet, phone sleeve, laptop sleeve dan passport case. Karena waktu yang dia punya habis untuk membuatnya. Dari empat produk itu saja, oom Ridho sudah kelabakan.
    Lalu mas paman Fahmi memberikan tautan instagram Brown Vlevet (BV). Dan rupanya BV juga sama seperti ODD leather, dia hanya membuat produk seperti oom Ridho.
    Moral cerita : Fokus di sedikit produk namun rutin diorder daripada nerima banyak produk jarang diorder.
  3. Pemasaran produk
    Evaluasi berikutnya adalah perihal pemasaran produk. Pak penjahit saya pernah berujar,
    “Produknya sampeyan bisa nitip jual ke butik-butik atau toko tas atau juga distro lo mas”
    Iya juga ya, namun saya belum menemukan toko tas atau butik yang mau menerima produk saya. Lah wong saya cuman nerima orderan bikin tas, belum buat tas untuk stok 😆
    Rencana pemasaran nitip jual akan saya lakukan di tahun kedua ini. Karena sudah ada produk yang siap dipasarkan bulan depan. Semoga barokah. Aamiin.
  4. Memperkuat merek
    Saya baru nyadar, ternyata setiap pembuatan produk, merek Finish tidak terpatri. Jangankan emboss, stempel aja baru bikin sebulan lalu (10 bulan kemudian dari Pebruari 2014) 😆
    Nah lo, mangkanya tahun kedua ini merek Finish kudu mengudara dan terpatri.

Moral cerita : Fokus bin Istiqomah (bisnis)

Lampiran pekerjaan pembuatan tas kostum dari “Finish”

  • Klien : Fierte Leather (Helmi)

  • Klien : Wahyu W (why)
    _DSC0197
  • Klien : Keenan Bags (Uli)
  • Klien : Nining
    nining_1
  • Klien : Jeepban
  • Klien : CV Infosys Solution
    infosys
  • Klien : Vicky Laurentina
    eval_2
  • Novy Hermianti