Antara Prestasi dan Apresiasi

​Beberapa waktu lalu, sepupu saya yang kira-kira sudah 3 windu berada di negara Bavaria datang ke Indonesia. Kemudian menghubungi saya untuk bertemu. Secara, saya menemukan sepupu saya ini dari gambar silsilah yang saya gambar ulang. Sehingga sepupu saya ini penasaran sama pembuat menggambar ulang silsilah itu.
Setelah bincang urusan keluarga selesai, sepupu saya bertanya kepada saya perihal aplikasi yang saya buat berbasis Android. Karena selama proses pembuatan alat itu, saya banyak berkonsultasi dengan dia. Saya bingung, lalu saya jawab, lah ya sudah selesai. Begitu kompetisi usai, mangkraklah aplikasi saya itu.
Sepupu saya kembali bertanya, 

“Kok bisa? Harusnya hal semacam itu kudu dikembangkan, apalagi jadi salah satu pemenang. Kalo bukan pemenang, ya wajar diabaikan.”

Saya kesulitan menjawab, lalu saya jawab, “Ya mau gimana lagi mas, bisa aja aplikasi saya masih disimpan untuk dikembangkan lagi. Entah kapan”.

Kemudian sepupu saya bertanya lagi, “Naik pangkat dong sekarang sejak jadi pemenang?”

Saya jawab, “Boro-boro naik pangkat, (apalagi naik gaji), saya sudah tidak kerja di sana lagi masa”.

Dan bertanya lagi, “Lhaaa kok bisa?”

Saya tidak menjawab, karena sepupu saya akan berangkat ke gedung untuk persiapan acara pernikahan anaknya.

Moral cerita: Sebuah cerita yg terinspirasi Ricky Elson.

Note: Hal ini juga terjadi di beberapa teman sekolah kuliah saya yg ada di turunan BUMN (dan turunannya lagi). Baik bank, minyak & gas, transportasi, perkebunan.

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s