Susahnya Membangun Warung Kopi

Salah satu warung kopi a la a ala yg di kawasan tengah Surabaya, hari ini mengakhiri operasionalnya. Teoria Coffee ini berlokasi di dekat kos saya dulu di daerah Ngagel. Secara tempat ok, kopi berkelas, harga terjangkau. Ya entah mereka pindah tempat atau benar-benar menutup usahanya, ya kita pantau saja di akun IGnya nanti.

Ngomong soal warung kopi, saya teringat teman kuliah yg mencoba membuka usaha warkop. Dia hanya bertahan sampai 8 bulan saja. Ternyata membangun warkop itu ada perhitungan sakleknya. Tidak bisa ditawar. Absolut. Titik.

Dia berujar misal kita modal beli bahan seperti minuman saset, susu, minuman soda, rokok, es batu senilai 1 juta rupiah. Kemudian dari modal 1 juta itu jika habis, harus menghasilkan omzet senilai 2 juta rupiah. Nah ketika omzet yg dicapai kurang dari itu, misalnya hanya 1,8 juta saja, maka itu rugi. Sebagai orang awam, saya melihat loh kan masih laba 800rb. Ternyata saya salah. Itu artinya rugi 200rb.

Loh kok bisa? Ya kerugian itu, misal ambil rokok 2 batang, ngomongnya ambil 1, ambil gorengan 4, ngomongnya 2. Hal-hal semacam ini secara langsung menjadi kerugian. Lain halnya jualan dompet, modal 200rb dijual 250rb, ya langsung untung 50rb.

Kalau itu terus-terusan terjadi, ya bangkrutlah warkop itu. Hal yg sama diutarakan oleh teman SMA saya yg seorang serdadu yg berencana akan membuka warkop. Dia menemukan tempat yg ok, sudah ada bilyar katanya. Secara teori dan sawang sinawang, warkop ini bakalan rame. Akhirnya saya bercerita tentang usah kawan saya tadi. Akhirnya dia paham dan dia mengiyakan bahwa cerita teman kuliah saya, sama dengan warkop langganannya yg sudah beroperasi hingga 5 tahun dengan 3 penjaga.

Si pemilik warkop ini awal membuka warkop terjun langsung selama 2-3 tahun, setelah stabil, barulah dia cari pegawai untuk jaga. Apa yg saya ceritakan sama persis dengan si pemilik warkop ini. Hitung-hitungan modal harus saklek. Trus saya kasih saran, mending jadi investor aja di calon warkop itu. Atau nitip dagangan aja semacam gorengan, cemilan atau nasi bungkus.

Kalo mau untung, bisa niru nasi sadukan di Sidoarjo yg menjual nasi seharga Rp. 3500. Dia dulu cuman satu rombong dengan 2 meja panjang. Sekarang sudah pindah ke lokasi yg lebih besar. Kalo saya perhatikan, dia hanya jual nasi sadukan, minuman sari dele dan es. Jadi dia belanja modalnya bahan mentah, lalu diolah (masak dewe) sehingga dia masuk kategori produsen.

Lain halnya warkop yg harus belanja minuman saset, susu dari toko, sehingga warkop di sini masuk kategori konsumen. Sehingga marginnya sedikit dan harus saklek. Absolut. Titik.

Selamat Tahun Baru 2019.