Pelesir Pecinan Surabaya

Acara Pelesir Pecinan Surabaya (PPS) kali ini adalah acara yang sudah diadakan kesekian kali dan saya baru bisa menghadiri acara yang digagas oleh kakak Paulina Mayasari pada hari Ahad 29 Juli 2012 lalu. Acara ini sebelumnya menggunakan nama Melantjong Pecinan Surabaya (MPS). Berikut kutipan dari acara Pelesir Pecinan Surabaya :

Pelesir Pecinan Surabaya (PPS) adalah sebuah wisata budaya dan sejarah masyarakat Tionghoa yang unik di Surabaya dan digagas oleh komunitas Jejak Petjinan. Di PPS, Anda akan diajak untuk mengenal tradisi dan kebiasaan dan masyarakat Tionghoa serta mencicipi kisah kesehariannya.

Komunitas Jejak Petjinan adalah sekumpulan orang yang ingin menelusuri jejak Tionghoa di Indonesia, baik yang masih ada ataupun yang sudah terkubur oleh jaman dan tidak berbekas lagi. Komunitas ini terbuka untuk umum, tidak terbatas oleh latar belakang budaya, agama, etnis dan usia. Salah satu kegiatan yang dilakukan sejak Desember 2009 adalah Melantjong Petjinan Soerabaia (MPS). Berbeda dengan MPS, PPS dirancaing khusus bagi pendatang dari luar kota Surabaya yang memiliki tujuan tertentu dengan keterbatasan waktu.

Dengan berpartisipasi delam MPS dan PPS, Anda turut mendukung upaya komunitas Jejak Petjinan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Tionghoa di Indonesia. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi semangat pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika.

MPS telah mendapat pengakuan internasional dari United Nations Alliance of Civilizations (UNAoC) di Rio de Janerio, 28-29 Mei 2010, sebagai inisiatif swadaya masyarakat yang inovatif dalam membangun rasa saling pengertian antara kelompok masyarakat yang berbeda-beda dan membantu meredakan ketegangan antar budaya, agama dan etnis.

Setelah sekian lama saya menebang alas dan hutan, akhirnya kesempatan untuk ikutan acara ini datang juga. Berbekal pesan singkat kepada kakak Maya, saya menanyakan ketersediaan kursi yang ikut acara itu masih ada atau sudah penuh. Owh rupanya masih ada pemirsah. Langsung saja saya mentransfer sejumlah nominal yang disebutkan dengan nomor kursi. Tak sabar untuk mengikuti acara keesokan harinya.

Acara Pelesir Pecinan Surabaya kali ini akan menelurusi sejarah bangsa China yang beragama Islam. Ada tiga lokasi yang kami kunjungi, yaitu Klenteng Mbah Ratu, Masjid Ampel dan Masjid Cheng Hoo.

1. Klenteng Mbah Ratu

Klenteng Mbah Ratu atau bahasa Mandarinnya adalah Sam Poo Tay Djien (cmiiw) adalah lokasi pertama yang kami singgahi di acara PPS ini. Hubungan klenteng dengan umat Islam bangsa China di Indonesia sungguh luar biasa. Maksud luar biasa di sini adalah saya luar biasa tidak mengerti bahasa Mandarin. Karena penjelasan dari tuan rumah (foto kiri bawah) menggunakan bahasa Mandarin dari awal. Meminta penjelasan menggunakan bahasa Madura juga mustahal, karena ini Pelesir Pecinan bukan Pelesir Medunten. Akhirnya saya memutuskan untuk mengitari klenteng ini dengan naluri jurnalis abal-abal yang saya dapat dari majalah laba-laba. Dari mengitari klenteng ini, saya mendapati bahwa material kapal Laksamana Cheng Hoo yaitu badan kapal dan jangkar kapal berada di klenteng ini.

2. Masjid Ampel

Masjid Ampel adalah masjid legendaris dari salah satu Sembilan Wali (Wali Sanga) yaitu Sunan Ampel. Loh kok ke Sunan Ampel? Memang Sunan Ampel itu dari China? Perdebatan tentang asal muasal Sunan Ampel yang berasal dari China masih sering saya dengar hingga kini. Lalu idola saya Gus Dur yang mengatakan bahwa dia adalah keturuan Tionghoa yaitu dari Tan Kim Han dan masih ada hubungan saudara dengan Raden Patah (Tan Eng Hwa), pendiri Kesultanan Demak yang tak lain adalah moyang dari Sunan Ampel ini. Penjelasan dari sini, sudah cukup membuat saya pusing. Apalagi aroma martabak dan gule kacang hijau membuat konsentrasi bubar jalan ketika mendengar penjelasan dari tuan rumah.

Tibalah kami mengunjungi makam Sunan Ampel yang terletak di bagian barat masjid Ampel. Berdasarkan penjelasan, makam yang ada di komplek ini diisi juga oleh murid-murid kesayangan Sunan Ampel. Waktu yang semakin mendekati waktu berbuka puasa diiringi dengan semerbak aroma martabak, kambing oven dan gule, masih jadi alasan utama saya mengabaikan penjelasan dari sang kyai.

3. Masjid Cheng Hoo

Tiba akhirnya kami di tujuan yang terakhir, yaitu masjid Cheng Hoo. Untuk penjelasan Masjid Cheng Hoo, silahkan mengunjungi situs tersebut, karena ketika sampai dimari, saya khusyuk menikmati pentol, gorengan dan es cao yang terletak di komplek masjid.

____

Bagi teman-teman Pelesir Pecinan Surabaya, harap memberikan komentar tentang perjalanan kita kemarin. Terutama dari klenteng Mbah Ratu, Masjid Ampel dan Masjid Cheng Hoo. La loh kok kabeh yaaa?

One thought on “Pelesir Pecinan Surabaya

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s