Menghargai Profesi Teman

Orang tua teman saya (sebut saja namanya Om John) baru menerima telepon dari kawan baiknya yang berencana membeli kamera padanya. Dia bercerita tentang kawan yang baru saja diteleponnya itu. Dalam percakapan tersebut kawan Om John meminta pengurangan harga dari kamera yang akan dijualnya. Om John bilang ke saya bahwa harga yang diakadkan tersebut adalah harga nett alias harga bersih minus keuntungan. Di akhir percakapan dia mengatakan akan melepas kamera yang dimaksud dengan nominal yang disebutkan.

Hal ini juga sering (kalo mau dibilang selalu) saya alami dalam mengahadapi teman sendiri entah untuk pemotretan, desain poster, undangan, banner dan lainnya. Beberapa teman menganggap, berprofesi di bidang ini membutuhkan modal besar dan mereka menganggap saya orang mampu. Padahal belum mampu saya ini😛. Hal yang paling menjengkelkan ialah ketika saya memberikan diskon gila-gilaan untuk sebuah produk foto ekslusif (plus tambahan hari pemotretan secara cuma-cuma) dengan enteng mereka mengatakan:

Jangan mahal-mahal napa? TEMEN SENDIRI kok

Saking jengkelnya Om John ini, dia sengaja mengabaikan telepon dari kawan yang menawar harga nett tersebut. Dia punya alasan, kalaupun kawannya itu jadi beli dengan harga yang dibuka oleh Om John, ketika melihat barang yang dijual, pasti akan dicari-cari kesalahan agar bisa dikurangi lagi harganya. Padahal kata Om John, kawannya ini beli kamera baru juga bisa kok.

Dengan alasan itulah, saya menggandeng teman untuk urusan motret jepret. Sehingga saya memberikan layanan dua fotografer sekaligus. Dengan demikian saya bisa obyektif dengan menentukan harga. Untuk hal yang begini, saya mendapatkan nominal gaji yang sama untuk klien orang luar dan saya mendapatkan nominal gaji setengah dari fotografer kawan saya itu untuk teman sendiri. Simbiosis mutualisme lah kata orang biologi. Dan saya sendiri, memberikan produk yang eksklusif dengan pertimbangan produk itu bisa dilihat hingga puluhan tahun (ih lebay deh).

Om John berujar, kalo untuk harga murah itu hanya bisa diberikan untuk saudara sendiri (dan saya setuju pendapat ini). Ada beberapa fotografer dan desainer grafis (yang saya kenal) memberikan harga (kelewat) murah untuk mendapatkan jam terbang tinggi. Hal itu memang dibenarkan, tapi apa iya akan terus menerus? Dan sampai kapan merasa jam terbang kita tinggi? Hal demikian ini adalah hal yang relatif dan sulit diukur. Padahal mereka-mereka itu sudah lama berkecimpung di dunia fotografi dan desain grafis. Hingga tak sadar, mereka tenggelam oleh pemain-pemain baru yang memang butuh portofolio (dengan harga hancur tentunya). Hal itu membuat fotografer dan desainer grafis lawas masih berkutat di level amatir, walau dia mampu untuk bersaing di level profesional bahkan komersial.

Dalam sebuah artikel di majalah online Exposure Magz (edisi 15; Oktober 2009), diucapkan oleh Suryo Priyantoro “Hasil foto itu bagus jika adanya kerja tim (team work) yang solid, jika hasilnya jelek, itu mutlak kesalahan fotografer”. Lain halnya yang diucapkan oleh Mao Hartono di majalah online Exposure Magz juga (edisi 11; Juni 2009) “Saya dulu pernah menmatok harga murah, dan berujung pada penyesalan, pada akhirnya klien mencari kualitas”. Kita Ambil contoh, untuk pemotretan prewedding. Untuk mendapatkan hasil luar biasa, kita membutuhkan peralatan tambahan berupa softbox, reflektor dan piranti pendukung seperti kipas, lampu senter, kosmetika dan lainnya guna mendukung terciptanya hasil foto yang ciamik. Untuk membawa peralatan seperti itu, dibutuhkan “tambahan” orang untuk membawanya dan itu otomatis membutuhkan “tambahan” biaya. Coba bayangkan untuk pemotretan komersial, berapa orang yang terlibat? Ada bagian kostum, logistik, kosmetika, properti, agensi (model & iklan) dan klien itu sendiri. Coba tanya Mas Iman Brotoseno.

Saya (merasa) lebih beruntung bila dibanding beberapa kawan sejawat yang baru memulai berusaha dagang. Kawan saya sering “sambat” kalo mesti ketemu dengan kawan (ngaku) lama yang dengan tega merayu-rayu agar barang dagangannya dilepas dengan harga murah (bahkan meminta harga pabrik) dengan alasan: “TEMAN SENDIRI”. Padahal barang dagangan itu sudah bayar pajak, bayar biaya transportasi, bayar SNI, bayar BPOM (untuk makanan) dan biaya lain-lain. Teman saya mematok keuntungan minimum 10% dari harga grosir hingga maksimum 40%. Itu adalah hal yang normal dan wajar. Kalo ada yang minta harga pabrik, itu kurang ajar.

Bicara tentang menghargai profesi teman ini, saya teringat mendiang ayah saya. Setiap beliau berjumpa dengan kawannya yang berprofesi jasa seperti dokter, fotografer, pemilik toko dll, beliau selalu berkata “Oleh diskon kan iki?”. Beliau selalu mengatakan “diskon” untuk menyatakan secara tidak langsung bahwa ayah saya akan membayar jasa yang diterima. Kata ayah saya juga,

Kalo minta gratis itu namanya menghina usaha teman nak. Dan itu bukan teman namanya.

Untuk itulah, di awal pertemuan dengan teman, saya selalu tanyakan nominal biaya yang dimiliki untuk jasa yang dibayarkan kepada saya. Kalo saya membuka harga duluan pasti jawaban pada paragraf kedua yang keluar😀.

moral cerita:

  1. Banyak orang (teman) yang memiliki konsep dan desain tinggi tapi hanya mau membayar rendah dan menyesakkan sambil berkata: “Masak ke teman sendiri harganya segitu”. Maka jawaban saya: “Kamu itu teman macam apa kok tega menyengsarakan teman sendiri” (sambil melotot).
  2. Teman yang demikian bukanlah teman yang baik, karena seorang teman (seharusnya) mengatahui resiko dan konsekuensi sebuah pekerjaan.
  3. Cari klien orang lain aja deh😀

11 thoughts on “Menghargai Profesi Teman

  1. benar, teman-ya-teman profesionalitas ya beda lagi. Mereka bisa dapat keahlian juga perlu berkeringat darah, kita wajib menghargai dengan layak

  2. hhhaha… nice post mas Angki… salam… jik eling ga yo sampean… poko’e aku tau dadi anggota BEM PENS pas jaman e mas fatikh… tau ketemu sampean pas KP nang Pemkot sby… sampean jik ng kono ta mas…

    ijin nambah blog e sampeyan ng blogrollku yo?? hhehe… suwun…

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s