Kenang Semarang

semarang cergam

Pulang ke Surabaya dari Semarang, sempet tarik ulur lewat Pantura lagi atau lewat Selatan. Akhirnya diputuskan lewat Selatan dengan jalur arah Solo dan Ngawi. Perjalanan kali ini cukup menyenangkan dikarenakan jalan yang dilalui tidak ada dalam proses betonisasi.

Kondisi fisik yang tidak mendukung membuat kami hanya istirahat setiap jamnya. Berangkat dari Semarang jam 12:00 WIB selepas dhuhur, lanjut ke arah Solo dan potong kompas lewat Sragen tanpa melalui Solo terlebih dahulu. Sempat deg-deg plas melihat awan hitam yang mengantung di langit Sragen. Hujan tidak ya???

Untung hanya gerimis mengundang di Sragen dan kami berhenti sejenak untuk memakan bekal yang telah disiapkan oleh mama Adhi di masjid di daerah Sragen sekitar jam 14:00 WIB.

Kami melanjutkan perjalanan hingga Ngawi jam 15:50 WIB untuk istirahat dan solat Ashar di salah satu SPBU di kabupaten Ngawi. Jam 16:00 WIB tepat, kami melanjutkan perjalanan menuju surabaya. Sekitar 500 meter dari SPBU tadi BYURRRRR..!!!! air hujan turun seperti dituang dari langit. Untung kami sudah memakai jas hujan ketika keluar dari SPBU Ngawi tadi.

Hujan itu terasa sakit ketika mengenai jari. Menurut teori fisika (*halah*), ketika air hujan jatuh ke bumi ditambah dengan gaya horizontal dari berkendara motor, itu akan menambah energi potensial air menjadi energi kinetik lebih keras. Kurang lebih seperti burung yang ditabrak oleh pesawat tempur yang akan menyebabkan kaca kokpit pesawat tempur menjadi hancur berantakan. Becul kan??? :mrgreen:

Istirahat keempat kalinya di kota Nganjuk, kotane Ndop wal Dzofar. sambil solat Maghrib dan makan malan di warung milik ibunda seorang pembalap. Menurut ceritera sang ibu itu adalah, dahulu para penjual di seputaran Alun-Alun Nganjuk. Sejak berganti kepemimpinan dari seorang bupati wanita berganti bupati Lelaki, para penjual di seputaran Alun-Alun Nganjuk tidak diperbolehkan untuk berjualan di sana.

Para penjual yang terasing itu, kini menempati stadion Nganjuk (mav lupa namanya) dan di radius Alun-Alun Nganjuk agar asap dapur tetap mengebul. Termasuk ibu penjual nasi campur yang kami singgahi untuk makan malam ini.

Perjalanan kami lanjutkan ke Surabaya sekitar jam 19:30 WIB. Semakin lama kami semakin ngantuk dan lelah. Hingga kami istirahat sebanyak 3 kali selama Mojokerto. Tikungan parabolik yang biasa Angki lewati dengan kecepatan 90 km/jam harus dilewati “cukup” dengan kecepatan 60 km/jam. Selain jalanan licin karena telah turun hujan, pandangan terbatas karena malam hari.

.
.

Sesampai di surabaya di kos-kosan tercinta di Jl. Arif Rahman hakim jam 22:00 WIB. Lelah tak terkira penuh peluh dan perjuangan dari Semarang akhirnya lunas sudah.

cergam Loenpia

Ucapan terima kasih Angki untuk:
Nining si Lipstik waterprup.
Fany Aria yang maniez.
Oky si wanita berkacamata.
Mizul sang Potograper.
Budiyono dot net bukan dot inpo.
Kipli bukan pemeran di Kiamat sudah dekat.
Fahmi tanpa nama depan Eddy.
Pepeng a.k.a Firmansyah.
Munif
Our guide 1.
Didut orang yang direkomendasikan Fany.
Wedhouz
Our Guide 2 (aku lali jeneng asline arek iki. Betulin pow?).

18 thoughts on “Kenang Semarang

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s