Serang Semarang

Sabtu (3/1) kemarin Angki bareng Albert pergi ke Semarang untuk mengembalikan komputer jinjing milik Adhi naik Motor. WHAT???? MOTOR?? Yup. Hanya untuk mengembalikan komputer jinjing tersebut. Lah kalo liat di peta, jarak Surabaya – Semarang cukup dekat. Tinggal lep nyampe deeh.

ride2semarang

Ternyata TIDAK..!!!

Sembilan jam lamanya perjalanan dari Surabaya ke Semarang lewat Pantura. Pemandangan indah pantai utara selepas Tuban sungguh menyegarkan mata yang jenuh menatap kendaraan selama jalanan di Lamongan sampai Tuban. Keindahan itu berubah jadi mengerikan ketika indikator bensin menunjuk “E” alias ENTEK. Kenapa eh kenapa?? Karena eh Karena, selepas kota Tuban SPBU sepanjang Pantura menuliskan “PREMIUM dan SOLAR HABIS”. Kelangkaan BBM jenis Premium dan Solar, ternyata hingga Pati-Demak. Ow My DOG..!!!

Untuk menurunkan detak jantung yang terus berdegub kencang karena kekurangan bahan bakar, kami ahirnya menemukan penjual BBM eceran menjelang di perbatasan Jatim-Jateng. Sekalian istirahat disana, Angki ngobrol dengan penjual bensin itu tentang kelangkaan bensin. Ternyata sejak dua hari ini, pasokan BBM dari Pertamina memang kurang. Malah kata penjual bensin eceran itu, Pertamina akan menurunkan harga Premium menjadi Rp. 3000,-. WHAT?? TIGA REBU?? Bener g’ sih??.

Setelah mengisi dua botol Topi Miring berisi bensin yang ditukar uang Rp. 12.000, kami melanjutkan perjalanan ke semarang. Untunglah setelah masuk Jateng tepatnya di kota Sarang-Jawa Tengah, kami mendapatkan SPBU yang masih tersedia BBM jenis Premiumnya. Itupun sudah menjelang habis. Indikatornya, selang bensin kedua tidak kuat menyalurkan bensin ketika selang pertama menyalurkan bensin. Jadi kudu gantian.

Sejak dari SPBU itulah, sepanjang perjalanan dari Sarang sampai Kudus, kami “cukup” bosan melihat tulisan “PREMIUM dan SOLAR HABIS”. Haiyahhh kon. Sempat terpikir rasa empati dari kami perihal truk-truk yang terparkir. Jika barang yang diangkut adalah buah-buahan, sayuran dan benda tidak tahan lama, rugi berapa rupiah ya untuk mengganti komoditi tersebut? Ah sudahlah.

Sampai Semarang, hanya Fany Aria yang Angki ingat *halah*. Dan untungnya Loenpia lagi ada acara pada malam itu untuk koordinasi tentang gerakan 1000 buku keesokan harinya. Mbak Fany memberikan nomor ponsel Mas Didut untuk konfirmasi, karena Fany ada acara sebelum ke Burjo Singosari.

………………..bersambung

15 thoughts on “Serang Semarang

  1. Pingback: Kenang Semarang « Raden Mas Angki Bukaningrat ™

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s