Tantangan Fotografi

No Potrait Ada tiga tantangan yang disodorkan Eddy soal fotografi kali ini yaitu, foto kegiatan pasar, foto hitam putih dan foto full landscape (no potrait). Dari ketiga tantangan itu, hanya foto hitam-putih dan full landscape yang terlaksana. Soale udah kesiangan mo ke pasar keputran atau pasar jagir :mrgreen: .

  • Foto Kegiatan Pasar Memfoto transaksi antara penjual dan pembeli menurut Angki cukup riskan. Kenapa eh Kenapa? Karena eh karena [IMHO] transaksi antara penjual dan pembeli merupakan ritual yang hanya dan hanya jika terjadi tanpa campur tangan pihak ketiga. Nah alasan lainnya, preman pasar.
    [+/- Lanjut baca: Photography Challenge]

66666

66666

Ini adalah skrinsur waktu Angki komen di blog eFahmi (bukan yang neutrino) tentang makanan sampah. Kalo diperhatikan, angka notifikasi nonspam antispam-nya terdiri dari lima angka 6.

Bisa jadi komentator setelah Angki notifikasi nonspamnya teridiri dari enam angka enam.

Tapi keknya nggak deh, wong itu cukup diisi dengan lima digit angka.

Journey To The Past – Soerabia [2-habis]

Wilayah alun-alun atau taman kota (stadstuin) adalah pengembangan kedua dari lingkar kota Surabaya yang dibangun VOC. Inisialnya, Surabaya dibangun di daerah yang kini dikenal dengan daerah Jembatan Merah dan Kembang Jepun. VOC membagi blok benteng kota berdasar tepi alami berupa sungai (Kalimas) yang membelah kota menjadi dua. Pemisahan ini dikenal dengan keluarnya undang-undang Wijkenstelsel pada 1843. Sebelah barat sungai adalah daerah permukiman orang Eropa. Sementara sisanya adalah untuk orang Timur Asing (orang Arab dan etnis Cina).

Segregasi ini dimaksudkan pada awal perkembangan kota, namun lama kelamaan menjadi sebuah teritori spasial yang diwujudkan dengan pola pemukiman berciri. Daerah untuk orang Eropa dipenuhi dengan banyak karya arsitektur yang bergaya Eropa. Beberapa yang menjadi landmark, di antaranya deret bangunan di jalan Jembatan Merah, yang menghadap ke Kalimas (identik dengan pola di Belanda, di mana bangunan menghadap sungai). Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini membawa khasanah arsitektur kolonial awal dengan trademark pengunaan atap dan menara yang menyatu dengan bangunan dilengkap dengan dormer (jendela di atap). […] Hilman Taofani[…]

7. Koloniale Bank

ptpn-xGedung ini sempat berganti kegunaan menjadi PTPN X. Dibangun pada tahun 1927 oleh Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Beliau adalah seorang guru besar “Sekolah Tinggi Teknik” Bandung (now ITB). Gedung ini merupakan gedung administrasi dari PTPN X. Jadi gedung ini merupakan tempat transaksi untuk komoditi perkebunan.
[+/-]Lanjut Baca: Setelah dari Koloniale Bank, Angki menuju ke…