Belajar dari Korea Selatan

Pengennya sih nulis tentang Belajar dari Malaysia. Tapi kok rasanya “terlalu dekat” atau “kelewat jauh” ya dalam segala-segalanya. Dan salah satu kolom FOKUS KOMPAS 18 Juli 2008 tentang Korea Selatan kayaknya lebih “sepadan” dengan Indonesia daripada Malaysia.

“Kesepadanan” itu karena Korea Selatan merdeka pada tahun yang sama dengan Indonesia. Walaupun “amat jauh” digapai oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam kolom FOKUS KOMPAS tersebut Indonesia “sepadan” soal kebijakan yang sama dengan Korsel.

BANGSA YANG DIBANGUN DI ATAS FONDASI EKSPOR
.
.
.

Itulah “semboyan” Korsel yang dicanangkan oleh Presiden Park Chung-hee ketika melakukan Kudeta Militer PM Chang Myong pada bulan Mei 1961. Pada tahun 1962 Korsel adalah negara termiskin ketiga di Asia dengan pendapatan per kapita hanya 87 dollar AS atau di bawah negara-negara miskin Afrika.

Di saat negara berkembang lainnya memulai membangun negara dari sektor pertanian, Korsel justru memulainya dari industrialisasi. Alasan Park Chung-hee sangat pragmatis soal industrilisasi di Korsel.

Tidak tersedianya lahan yang memungkinkan untuk dilakukannya peningkatan produksi pertanian dalam skala besar.

Tahapan yang dilakukan Korsel dalam dunia industri adalah penjiplakan kebijakan-kebijakan industri yang berlaku di Jepang. Hal ini dilakukan atas meningkatnya proteksionisme negera-negara maju untuk melindungi produk-produk industri padat karya mereka.

Dengan dukungan penuh Pemerintah, industri baja, kapal, elektronika dan mesin masuk ke jajaran industri Korsel setelah industri kimia dan industri padat karya mencapai sukses pada dekade sebelumnya (1960-1970).

MENGAPA INDONESIA GAGAL??

Karena kebijakan Menrsitek Habibie yang terlalu memproteksi industri berat seperti IPTN (now PT.DI), Krakatau Steel, Batu Bara, Semen dan industri lainnnya. Industri-industri yang diproteksi tersebut BUKAN industri padat karya apalagi industri kecil dan menengah seperti Korea Selatan.

Dan itulah kenapa Korea bisa bertahan dari serangan Krisis Moneter 1998. Ketika banyak industri besar kolaps, Korea masih bisa bertahan dengan mengandalkan industri kecil dan menengah untuk menopang APBN Korea.

Indonesia makin terjerembab dan babak belur untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi karena Korupsi yang kronis dan sistem politik badut Senayan.

Angki masih inget kata-kata Guru SD Angki yang berkata:

Selama bangsa ini masih memikir urusan perut, bangsa ini tidak akan pernah bisa maju. Soekarno

Ah Sudahlah

13 thoughts on “Belajar dari Korea Selatan

  1. klu menurut saya mas, pribadi nya masing2 individunya org korea yang beda ma kita.pekerja keras, tekun dan kayaknya mereka mensyukuri bgt dgn apa yg ad di depan mata. Dan yg plg saya saluti adalah semangat fighting mereka.(hehehe… maaf ya ini pendapat pribadi saya loh,

    Perilaku masyarakat Korea menurut saya setelah baca artikel tersebut lahir dari kepedulian pemerintah terhadap masyarakatnya. Sehingga orang-orang KorSel merasa perlu membalas kepedulian Pemerintah. Itulah bedanya dengan Indonesia.

    Ah Sudahlah

  2. ah, indonesia terlalu bangsa yang terlalu legowo mas.. jadi mendingan ngalah aja daripada terus-terusan menang.. hehehe

    Sektah, kapan lo Indonesia tau menang? Menanggung malu iyo Pak

  3. oh ternyata gitu ya. Korea Selatan ternyata juga mengalami krisis ekonomi tahun 1998.. kok persis dengan Indonesia ya!? hm… tapi Indonesia ini terlalu mudah untuk berpuas diri, jadi ya wajar saja kalau kita juga mudah untuk tertinggal… Tulisannya tambah berat rek!!!

    Krisis yang 1998 itu adalah krisis global Cak Niko, bukan hanya Indonesia yang mengalaminya. Korea Selatan pun mengalaminya, tapi mereka segera bergegas untuk bangkit tidak seperti Indonesia.

    Ah Sudahlah

  4. tambahan, di sektor olahraga.
    Korea meminta Indonesia mengirim pelatih bulutangkis untuk mengajari mereka yang baru bisa nepok cock..awal tahun 80an kita mengirim Olih Solichin – pelatih kurang top asal Pelatda Bandung. Ya asal ngirim saja, dan nggak bayangin mereka bisa mengancam kita.
    Ternyata sekarang kita gantian ngos ngosan kalau ketemu Korea di lapangan bulutangkis.

    Weeettzett..!!! Ini yang aku g’ tahu. Bisa jadi jamu jahe jago kalah dibandingkan gingseng Mas.

  5. terima kasih atas kunjungan Raden Mas …😀

    tulisannya bermanfaat dan menarik, saya membangkitkan motif belajar siswa saya dengan menautkan tulisan menarik di atas … semoga terus berkenan diupdate dan saya tunggu yang terbaru dari Anda

    http://fisikarudy.wordpress.com
    belajar fisika itu gampang

    Saya juga mengucapkan terima kasih udah menautkan link tersebut walau hanya segelintir info yang saya tulis disana.

    Maksud pak Rudy tulisan terbaru saya ttg Korea Selatan?? Kalo ada yang menarik, pasti saya posting

  6. wekz sangar pek tulisannya… hebat..
    benar juga Indonesia terlalu mem-perhatikan perusahaan besar ketimbang usaha kecil menengah…
    maklum pemihak pada kaum kapitalisme.

    Terima Kasih daeng aRuL. Yuk buka warung kopi di Kampusmu :mrgreen:

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s