Semua Tak Sama (Padi-2001)

Akhir pekan ini kemarin, Angki mudik untuk memberikan sangu ke Mama abis terima honor berupa minyak goreng, lumayan lah sampe ntar lebaran g’ usah beli minyak goreng lagi.

Pada hari minggunya (8 Juni), ada acara arisan keluarga. Di sana udah banyak “wajah-wajah baru” yang Angki lihat. Entah itu wanita atau lelaki atau anak-anak yang masih precil-precil.

Angki terpaku pada salah seorang pemuda dengan menggendong bayi mungil. Dan dia adalah Ipung sepupu Angki, bukan Ipungnya D4 yah, catet itu. Ternyata anak yang dia gendong adalah anak kedua Ipung. Ipung dan Angki terpaut 4 tahun lebih tua Ipung. Di usia yang tergolong muda itu, dia udah harus mengurus dua anak dan satu istri tanpa pekerjaan.

WHAT??? Yup tanpa pekerjaan.

Dalam sebuah percakapan antara Angki dan Ipung, ada perasaan kasihan yang teramat dari kepala dan hati Angki. Gimana g’ kasihan, Ipung adalah masih mahasiswa yang belum selesai studinya di Poltek Jember (bukan Poltek Elektronika Negeri Surabaya yah, catet itu). Dia putus kuliah karena Ipung menikah atas nama “baby”. Dalam kondisi seperti itu, Ipung masih tinggal dengan sang Ibunda, alias tante Inna beserta Kakak Emmy yang juga tinggal satu atap. Suami dari Kak Emmy, entah kemana Angki g’ tau. Jujur aja dengan spesifikasi rumah 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tamu yang juga merangkap ruang keluarga, bisakah mereka “hidup”??

Obrolan berlanjut tentang Angki, ketika Ipung bertanya pekerjaan Angki. Dia rasanya sedikit malu, sedih, gembira, campur aduk deh. Itu terdengar dari getar suara Ipung yang tertahan di tenggorokan. Dia seakan-akan jadi manusia useless di dunia. Rasanya hidup ini bagi Ipung tidak ada yang ceria, kelam, tanpa ada sedikitpun pancaran optimisme.

Angki kadang lupa, bahkan mungkin selalu lupa. Bahwa masih ada saudara yang kurang beruntung di luar sana. Dan Angki malah menghambur-hamburkan rejeki yang kadang amat sangat mereka butuhkan.

Mungkin saat ini, Angki lebih beruntung daripada Ipung. Mungkin besok Angki yang buntung. Semua Tak Sama.

Ah Sutralah

5 thoughts on “Semua Tak Sama (Padi-2001)

  1. selalu bersyukur dengan yang ada. boleh melihat ke atas agar kita termotivasi untuk selalu maju tapi jangan lupa tengok ke bawah masih ada yang kurang beruntung.

    ***opo tho, kok aku sok ngajarin, dik angki kan wes puuuinter yo***

    Luwih pinter Uti Wafie lah..!! 😉

  2. I used to love that song..dalam konteks yang berbeda he he..
    * anyway bersyukur dalam kelebihan dari yang lain,..

    Iya sih Oom, saya masih bersyukur dengan keadaan saya ini. Walau kadang juga miris, tidak bisa membantu sepupu atau temen deket saya 😥

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s