Menentukan Hari Baik


Dalam menentukan hari baik, banyak faktor yang mempengaruhi. Jika di Indonesia, (suku-suku seperti yang saya tahu adalah suku Jawa) yang berpengaruh besar yaitu “weton” jadi penentu dalam menentukan hari baik.

Orang Jawa menentukan hari baik untuk banyak hal. Pindahan rumah, selamatan, pidato dan tentu saja pernikahan. Jika ditilik lebih dalam, hal ini bisa berakibat hal klenik dan menjurus ke syirik. Karena melihat dari sejarah, masyarakat Jawa dalam menentukan hari baik menggunakan sesajen dan puji-pujian. Lalu saya sedikit mengubahnya ke dalam bentuk logis. Jika akan menentukan acara A, maka kita harus tahu, apakah acara A itu butuh hujan atau kering? Kalau kering, ya dipilihlah acara A di bulan kemarau yang bisa dimulai pada bulan April-September. Kalau ingin dingin, ya dipilih aja acara A pada malam hari. Ya seperti itulah kira-kira,

Lalu untuk menentukan hari baik untuk menikah, misalkan seorang lelaki bernama Kiki Safiqri yang lahir pada 10 Nopember 1985 dan Any Sulistiani yang lahir pada 26 April 1984. Menurut weton Jawa, Kiki lahir di Minggu Legi, sementara Any, lahir di pada Kamis Pon. Mereka berada dalam naungan cinta bersemi mekar sepanjang hari. Berdasarkan inilah, mereka berdua cocok untuk menikah di tanggal bagus, bulan baik dan tahun benar.

Saya ambil contoh keluarga saya, dalam menentukan tanggal pernikahan kakak-kakak saya semua diserahkan pada pihak keluarga mertua. Hal ini karena orang tua kami bukan ahli dalam menentukan weton yang demikian. Kata mendiang bapak saya, semua tanggal itu baik. Apa karena keluarga saya ini Madura kali ya, ndak ngerti soal wetan-weton. Etapi mendiang nenek saya ahli dalam hal beginian. Apa ikutan juga menentukan hari baik pernikahan kakak-kakak saya kali ya? Kalau ini saya ndak tahu :D

Moral Cerita : tanggal pernikahan yang baik dan benar adalah mempelai wanita tidak dalam masa menstruasi.


via my mozArt

About these ads

12 thoughts on “Menentukan Hari Baik

  1. “Jika ditilik lebih dalam, hal ini bisa berakibat hal klenik dan menjurus ke syirik.”

    sorry to say ya ki.. kebanyakan orang ngomong begitu karena mereka belum tahu.. tapi kalau kamu mau cari tahu, kamu bakalan tahu kalo hitungan2 jawa itu nggak syirik kok.. memang berbau klenik, tapi tidak syirik.

    adalah Kanjeng Sunan Kalijaga yang memadukan adat Jawa (dari budaya Hindu) dengan Islam. dan segala tradisi Jawa itu memang KLOP dengan Islam.. namun semua kembali lagi ke masing2 orang. suatu tradisi/ilmu (dalam hal ini ilmu jawa) itu sifatnya netral. hitam-putihnya tergantung yang menjalankan..

    • Wah makasih kakak Tutut atas penjelasannya. Karena itu bagi orang awam yang gagal paham, aku pakai kata “menjurus” alias mengarah ke syirik. Dan soal syirik atau tidak Allahhuallam yes. Aku melihat hal yang macam itu sebagai bagian dari budaya.

thank you for comment ;)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s