Sebagai penanggung jawab kebersihan, tentu sang pelayan kebersihan kudu memberikan teladan. Entah karena perintah dari agensi tempat sang pelayan kebersihan bernaung, atau inisiatif dari sang pelayan kebersihan di layanan pelanggan operator seluler GSM ini berdandan a la Mario Balotelli.
Itu adalah hak dari sang pelayan ingin berdandan macam apa. Setidaknya saat bebersih meja layanan pelanggan operator seluler ini, pelanggan yang hadir di ruang tunggu tidak terganggu tampilan kucel a la kuli panggul atau tukang sapu yang yang ada di pasar tradisional.
Tidak semua orang menyukai tampilan klimis sang petugas kebersihan atau pekerja kasar lainnya. Ada beberapa orang berujar,
"Wong cuman dadi klining serfis, gaya tok"
atau
"Halah ofis boi ae, atek gawe blekberi"
atau
"Sek dadi tukang sapu wes dandan tok"
Saya berasumsi orang yang berpendapat demikian adalah pegawai negeri sipil dengan gaji yang (mungkin) hanya cukup untuk membeli bahan baku makanan. Sehingga untuk melaksanakan ritual "me time" seperti ke salon, spa, fitnes dan lainnya kurang atau bahkan tidak ada, karena harus berhemat luar biasa ketat atau mencari sampingan agar dapur tetap ngebul.
Saya punya alasan kuat menuduh yg berpendapat demikian adalah PNS karena saya pernah bekerja di lingkungan pemerintah. Ada beberapa ofis boy yang berpenampilan a model majalah sampul. Kemudian ditegur oleh PNS dengan alasan, terlalu berlebihan "hanya" sebagai ofis boi aja berdandan kofer boi.
Bukan saat saya bekerja di lingkungan pemerintah saja saya menemukan hal demikian. Di tempat umum seperti mall, rumah sakit saat ada pekerja kebersihan yang tampil "cool", tak segan ada orang yang menegur pekerja kebersihan. Dan orang itu berseragam cokelat.
Stereotype pekerja rendah identik dengan kucel, dekil, karena mereka disamakan dengan pembantu rumahtangga. Tampilan pembantu rumahtangga adalah kesekian, yang penting rumah bersih, lantai kinclong, toliet bening dan masakan siap santap tersaji di meja makan.
Asumsi saya bahwa PNS yang demikian mereka lupa saat pekerja rendah bekerja, berada di keramaian. Sehingga penampilan juga mempengaruhi nama baik tempat sang pekerja rendah bekerja. Misal pekerja kebersihan di layanan pelanggan operator seluler ini berpenampilan kucel, dia akan jadi rasan-rasan di twitter, facebook, media cetak, radio, televisi bahwa klining serfis di sono dekil, buluk, bauk pulak. Menyenangkan banyak orang adalah masalah rumit. Tuhan saja tidak langsung mengabulkan permintaan hamba-Nya. Apa jadinya dunia, kalo semua doa manusia dikabulkan Tuhan?
Lagipula manusia mana di dunia ini yang mau tampil dekil kalau bukan sakit jiwa.
_________________________
Moral cerita : Setiap profesi manusia memiliki konsekuensi dan tanggung jawab terhadap perusahaan, lingkungan dan Tuhan. Hormatilah profesi manusia sejak dini. Ajarilah anak kecil untuk memberi edukasi bahwa klining serfis, ofis boi, pemulung, penjaga toko, kuli, satpam dan pekerjaan rendah dan kasar lainnya adalah sebuah tanggung jawab.
from mozArt
