Saya tidak pernah menulis terima kasih jempolnya pada kolom komentar tentang posting (status, tautan, gambar dll) yang saya buat atau bagi di Facebook. Beda dengan Youtube yang memiliki tombol tidak suka (unlike), di Facebook tombol tidak suka muncul saat kita sudah memencet tombol suka. Keengganan saya memberi komentar tersebut, karena memencet tombol suka tidak sebanding dengan membalas dengan menulis 22 karakter (termasuk spasi) untuk menulis “terima kasih jempolnya”.
Bisa saja, orang yang memencet tombol suka, lagi malas untuk berkomentar, sehingga tombol suka sekedar sedekah komen belaka. Kecuali komentar yang menulis “Like this”, saya pasti akan membalasnya (kalau saya mau
). Atau orang yang memberikan jempol pada status, foto, tautan yang anda bagi di facebook sudah muak atas apa yang Anda posting di facebook. Urusan menandai (tagging) begini, ada sebagian rekan saya yang kurang suka ditandai (khususnya barang jualan), karena hal itu membuat tampilanan linimasa (d/h dinding) jadi penuh dengan foto-foto.
Untuk menandai orang dalam postingan seperti foto, tautan, pastikan orang yang akan ditandai, terlibat atau sehobi atau butuh informasi atas hal yang akan anda ditandai. Karena tidak semua orang suka ditandai dalam foto, tautan, (apalagi status) yang anda buat. Sepeti pepatah Rusia yang mengatakan : dalamnya kolam dapat diukur, dalamnya hati harus operasi dulu.
moral cerita: facebook facebook saya, suka-suka saya. facebook facebook elu, apa kate elu. masalah jenderal?
jempolnya kebalik mas
http://purnosidi.web.id
Jurnal Penjualan Berfungsi sebagai tempat mencatat transaksi penjualan barang dagangan yang dilakukan secara kredit.
Pingback: Menjadi Nomor Satu « raden mas angki bukaningrat ™
haish kepencet send.
maksudnya…. aku juga ga suka ditag barang dagangan. pertama remove tag dulu. kl masih ngeyel baru remove yg ngetag…
suka ini
*cap jempol*
aku juga ma
fesbuknya apa ish mas?
ntar aku kasih jempol deh..
eh, enakan gempol daripada jempol deng
hehehee
http://angki.wordpress.com/angki
itu facebook-ku