Kembali Membaca
Ternyata menurunnya produktifitas saya menulis dikarenakan saya sendiri kurang membaca. Banyak sekali buku-buku bagus yang terbit setahun (atau lebih tepatnya seminggu terakhir) semisal Kick Andy. Entah mengapa setiap kali mampir toko buku yang selalu saya cari pertama pasti buku karangan Remy Sylado alias Yapi Tambayong.
Hal yang selalu menarik untuk terus membaca buku karya Remy Sylado karena aktualisasi sejarah (khususnya sejarah Indonesia) yang luar biasa sekaligus jenaka. Walau tokoh utama dalam novel tersebut tentunya fiktif belaka. Sejarah yang saya maksud semisal tanggal, lokasi, tokoh penting saat kejadian dalam novel itu terjadi, ditulis lengkap dan berututan. Sehingga buku karangan Remy Sylado ini cocok dikategorikan sebagai buku sejarah.
Bicara tentang kategori di Toko Buku Uranus Surabaya, buku Remy Sylado ini masuk kategori Sastra bersama buku biografi tokoh terkenal. Sedangkan buku novel karangan Pramoedya Ananta Toer, NH Dini, Raditya Dika, Dewi Lestari, masuk kategori Novel. Apakah itu salah? Saya rasa tidak, Uranus pasti punya standarisasi mengkategorikan setiap buku untuk mengisi rak koleksinya. Saya yaking jika ada penggemar Remy Sylado, akan melakukan hal yang sama: Mencari ke Kategori Sastra.
Untuk buku terakhir “Namaku Matahari” yang (akan) saya baca ini punya spesifikasi 123 bab, 555 halaman. Semoga bisa saya selesaikan





dan sayangnya hingga kini aku belum selesai membacanya
(
namaku matahari, aku udah baca buku ini.
gimana udah slesei blom bacanya, ga nyesel kan?
ceritanya bagus! aku malah mikir ini biografiya matahari, kan dia terkenal juga di malang :p
Wahahihihi embuh yo, lah buktine 3 buku Remy Sylado lainnya sukses aku baca. Nek buku “Namaku Matahari” iki jektas tutuk bab 22 kurang 101 bab lagi
wuik, tebel… moco ngono’an nggak ngantuk a ki? o_O