Wilayah alun-alun atau taman kota (stadstuin) adalah pengembangan kedua dari lingkar kota Surabaya yang dibangun VOC. Inisialnya, Surabaya dibangun di daerah yang kini dikenal dengan daerah Jembatan Merah dan Kembang Jepun. VOC membagi blok benteng kota berdasar tepi alami berupa sungai (Kalimas) yang membelah kota menjadi dua. Pemisahan ini dikenal dengan keluarnya undang-undang Wijkenstelsel pada 1843. Sebelah barat sungai adalah daerah permukiman orang Eropa. Sementara sisanya adalah untuk orang Timur Asing (orang Arab dan etnis Cina).
Segregasi ini dimaksudkan pada awal perkembangan kota, namun lama kelamaan menjadi sebuah teritori spasial yang diwujudkan dengan pola pemukiman berciri. Daerah untuk orang Eropa dipenuhi dengan banyak karya arsitektur yang bergaya Eropa. Beberapa yang menjadi landmark, di antaranya deret bangunan di jalan Jembatan Merah, yang menghadap ke Kalimas (identik dengan pola di Belanda, di mana bangunan menghadap sungai). Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini membawa khasanah arsitektur kolonial awal dengan trademark pengunaan atap dan menara yang menyatu dengan bangunan dilengkap dengan dormer (jendela di atap). [...] Hilman Taofani[...]
7. Koloniale Bank
Gedung ini sempat berganti kegunaan menjadi PTPN X. Dibangun pada tahun 1927 oleh Prof. C.P. Wolff Schoemaker. Beliau adalah seorang guru besar “Sekolah Tinggi Teknik” Bandung (now ITB). Gedung ini merupakan gedung administrasi dari PTPN X. Jadi gedung ini merupakan tempat transaksi untuk komoditi perkebunan.
8. Gedung BII (mav lupa nama Belandanya)
Gedung ini memiliki ciri khas berupa menara yang memiliki jam gadang (besar) serupa Lindeteves Stokvis (now: Bank Mandiri). Gedung ini juga adalah gedung perdagangan entah apa di jaman itu. Desain gedung ini serupa Gedung Internatio, bisa dilihat dari pintu masuk utama yang terletak di samping gedung bukan di depan. Kalo memang demikian, perancang gedung ini tak lain dan tak bukan adalah Ir. F.J.L. Ghijsels [CMIIW]. Karena noni Debora juga kebingungan dikala menjelaskan sejarah gedung ini.
9. Gereja Kepanjen
Gereja ini merupakan pindahan dari gereja Kawi yang ada di Temple Straat. Gereja Kawi berdiri pada tahun 1815. Karena dirasa tidak memenuhi jumlah jemaat yang semakin banyak, maka pada 5 Agustus 1900 dibangunlah Gereja Katolik ini. Pintu dan jendela yang tinggi, tiang dinding yang membulat, serta ornamen yang menghiasi dinding gereja memperlihatkan Europe styles. Gereja Kawi saat ini, menjadi [..............] Lanjut Baca: Gereja Kepanjen [...]
10. Handelsvereeniging Amsterdam (HVA)
foto by Hilman Taofani
Kini gedung teresbut adalah PTPN XI, dibangun antara tahun 1920-1925. Gedung ini berbentuk neo-klasik, terlihat dari penggunaan pilar-pilar besar pada bagian depan gedung. Melihat detail jendela, pintu dan ruangan, Angki sempet bertanya kepada Deborah;
“Seperti Lawang Sewukah Gedung ini Deb, Bor, atau Ah, bingung aku memanggil kau”
“Yup kamu betul, Ang, Ki, Pret, aku juga bingung memanggilmu. Btw kamu pernah ke Kampung halamanku?? Ang, Ki, Pret??”.
“Ow, dirimu orang Semarang punya? Deb, Bor, Ah? Aku belum pernah ke Semarang. Hanya melihat sekilas di blog teman tentang Lawang Sewu”
11. Residentwonig
Lebih dikenal dengan nama Grahadi yang dibangun pada tahun 1795 oleh penguasa tunggal (Gezaghebber) Belanda Dirk van Hogendorp (1794-1798). Pemilihan Resodentwoning di di Ketabang (Simpang) karena Dirk van Hogendorp, merasa kediaman resminya di dekat Jembatan Merah kurang sesuai dengan kedudukannya.
Cukup menarik adalah penamaan daerah Simpang ini. Tanah ini dahulu milik seorang Cina yang mula-mula segan menyerahkan kepada Dirk van Hogendorp. Dasar memang orang Belanda yang terkenal licik, orang Cina tadi berhasil dipaksa secara halus dengan pernyataan tanah itu akan “disimpan”.
Gedung ini di masa kepemimpinan Deandels, diperbaiki untuk dijadikan istana. Gedung ini dahulu menghadap ke sungai Kalimas, sehingga pada sore hari para penghuni Grahadi dapat menikmati kopi atau teh sambil melihat perahu-perahu yang melintas. Kemudian pada tahun 1802 Grahadi diubah mengahadap ke selatan seperti sekarang ini. di seberang Grahadi terdapat taman bernama Taman Kroesen (taman Simpang). Nama taman ini diambil dari Residen J.C. Th. Kroesen.
12. Simpang Societet
Balai Pemuda merupakan tempat dugem, dansa dan pertemuan para meneer dan mengvro [CMIIW] mevrouw dahulu. Balai Pemuda memilki 3 hall yaitu hall utama yang merupakan hall terbesar diantara hall yang kedua dan ketiga. Hall utama ini sekarang sering dipakai untuk pentas band, pameran, pertunjukan tari, perkawinan dan lainnya. Pada jaman penjajahan dulu, tempat ini adalah tempat dansa yang cukup besar (waktu itu). Hall kedua juga merupakan tempat dansa tapi tempatnya lebih kecil dari hall utama. Lalu kami menuju hall ketiga, tempat jedang-jedung orang jadul. Masuk kesini, Angki jadi inget video klip DEWA 19 yang Kamulah Satu-Satunya. Nah ada balkon yang merupakan tempat band bermain, mirip tempat DJ di diskotik jaman sekarang.
[...] Lebih dikenal sebagai Balai Pemuda, lebih lengkap baca disini [...]
13. Es Krim Zangrandi
Es Krim Zangrandi di bangun oleh seorang ekspatriat Italia bernama Roberto Zangrandi. Meskipun sempat beralih kepemilikan pada tahun 1960, saat ini Es Krim Zangrandi masih jadi tujuan menikmati es krim segala usia. Bagi yang tua, Es Krim Zangrandi adalah untuk bernostalgia. Sedangkan untuk anak-anak muda, tempat ini adalah untuk merasakan suasana tempo dulu.

Pingback: Legenda Kacang Kuah « Raden Mas Angki Bukaningrat ™
mevrouw bukan mengvro
Wah Zangrandi itu asli dari Itali ya? Jadi muncul nih solidaritas Italiano-nya…hehehehe. Belom sempet ke Grahadi dan Gereja Kepanjen. Kapan hunting Ang? Ki? Pret?
Sok Tau alias KEMERUH !!!!!!
Mending Mati Aja Deh Loe
Seru juga ya melok jalan2 petra iki, sayang aku lg sibuk
ayo dong ki.. diulang buat kru WS.. kamu jadi pemandunya