
Banyak orang meragukan kehandalan Casey Stoner bersama Ducati Marlboro Team-nya. Hal itu tak lebih dikarenakan motornya. I don’t think so guys. Capirex a.k.a Loris Cappirosi yang udah bangkotan di MotoGP aja kerepotan menjinakkan Ducati GP7. Dan sekarang Marco Melandri yang jungkir balik menstabilkan liarnya Ducati GP 8.
Dari referensi yang Angki baca di Motor Plus, disebutkan bahwa Casey Stoner lahir dan besar dari lintasan aspal. Bukan emaknya melahirkan Casey di aspal dengan bantuan mekanik, atau emaknya kiper di lapangan aspal. Bukan, bukan itu. Tapi dia mengawali karir profesionalnya pertama kali di dunia motorsport memang langsung berlaga di lintasan aspal (Di Eropa). Beda dengan Valenitik, Capirex, Texas Tornado, apalagi Max Bego yang mengawali karir profesionalnya dari motocross.
Bisa di buktikan dari gaya balap mereka yang lahir memulai dari motocross kemudian ke lintasan aspal. Mereka cenderung grasak-grusuk, seradak-seruduk. Itu disebabkan cara membawa motocross yang stop and go di tikungan. Coba liat Rossi, Melandri, Capirex kadang menurunkan kaki ketika sudah tidak mampu menaklukkan tikungan (oversteer). Beda ama Casey Stoner yang lemah lembut (tidak gagah gemulai) melewati tikungan hairpin dan mulus beradu dengkul di tikungan parabolik.
Harus diakui pembalap roda dua yang berawal dari motocross memiliki handling yang mantab jaya karena kudu menaklukan handycap, table top setiap lapnya. Imbasnya ketahanan fisik di atas rata-rata pembalap aspal. Tapi ketahanan fisik itu menjadi bumerang ketika berlaga di lintasan aspal. Emang di Catalunya, Sepang, Sentul, Mugello ada table top, handycap? Enggak kan? Dan kelebihan fisik itu, membuat pembalap g’ sabaran. Cinta tanah air deh.
Nah itu dari segi pembalap. Mari kita lihat dari motorna.
Kenapa?
Begini brur, Honda, Suzuki, Yamaha merupakan kendaraan amphibi. Bukannya ketiga pabrikan itu memiliki motor yang bisa mengapung di air dan menggelinding di aspal sekaligus. Bukan, bukan itu. Ketiga pabrikan itu memproduksi motor untuk motocross dan jalanan aspal. Honda dengan CR, Yamaha dengan YZ, dan Suzuki dan RM. Walaupun ketiga pabrikan itu ada divisi yang berbeda untuk motocross dan aspal, tapi ketiganya tidak akan punya andalan utama di alamnya.
Ducati?? dia hanya khusus membuat motor jalanan aspal. Siapa yang tidak kepincut dengan Ducati 999 yang ber-monoarm, Ducati Monster yang “sederhana” nan elegan, Ducati ST-9 yang beraura sport namun aje gile diajak touring nun jauh dimato apalagi Ducati 848. Kalopun Ducati bikin motor trail, itu cenderung ke supermoto. Bukan Supermoto Invy, catet itu.

Kehebatan Ducati di lintasan aspal mangkin menggila di Superbike Ketika Carl “Foggy” Fogarty masih mengangkangi Ducati. Tak satupun pembalap bisa mengalahkan Foggy sampai akhirnya dia pensiun dari Superbike. Dan di Superbike itu merupakan ajang balapan motor 4-tak.
Ketika FIM membuat aturan baru untuk MotoGP menggunakan mesin 4 nada, Ducati serasa di atas angin. Dengan pengalaman dahsyat di Superbike, mereka PD menjadi kontestan MotoGP (900 cc) di tahun 2003. Walau butuh waktu, tapi Ducati dengan Casey Stoner akhirnya membuktikan bahwa di tahun 2007 mereka adalah mempelai dalam lintasan aspal.
Masih ngotot, Stoner diuntungkan motor??
Artikel di Jawa Pos tentang kostum nasional kontestan Euro 2008 cukup menarik. Tentang warna kostum. Yup warna kostum kontestan EURO 2008 ternyata tidak saklek dengan warna bendera mereka.


