Di sanalah Di sanalah di Surabaya..!!!
Kota kenangan kota Kenangan Kota kenangan
Di sanalah di tahun empat lima
KAmi berjuang kami berjuang
di Surabaya…!!!
Petikan lagu perjuangan Surabaya memulai awal cerita Napak Tilas Hari Pahlawan 10 Nopember yang bertepatan dengan hari Ulang tahun Angki 22 tahun lalu gito laww
.
Jimmy, Astri, Angki, Gita, Dita, Fahmi, Anton, Rudy, Dena, Salim, Atas dan Gina. Ke-duabelas manusia yang Angki sebutkan tadi tergabung dalam Komunitas mailing List Wisata Surabaya. Mereka memiliki background pekerjaan yang beragam. Ada dokter, dosen, pengusaha, wartawan, tukang gacor, pemulung, karyawan swasta, desainer dan (mungkin) pengangguran. Angki masuk yang mana???? Ada deh.
MAU
TAHU
AJA..!!!
Kopi darat “Napak Tilas Hari PAhlawan (NTHP)” Wisata Surabaya kali ini merupakan acara yang kedua setelah kopi darat pertama mengelilingi Surabaya dengan tema “Keliling Surabaya Lawas”. Dalam acara NTHP ada 5 (lima) tujuan yaitu Gereja Katolik Santa Perawan Maria, Tugu Pahlawan, Arca Joko Dolog, Balai Pemuda, Soto dan Gado-Gado Dapur Umum, dan terakhir Ice Cream Zangrandi.
07.45 WIB
Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria
Jl. Kepanjen Surabaya
Di Gereja ini kami dipandu oleh Bapak Freddy bukan Mercury. Tempat yang dituju pertama di Gereja ini adalah balkon gereja alias di lantai dua gereja. Terlepas apakah umat muslim seperti Angki haram hukumnya masuk ke Gereja, I Don’t care, nawaitu Angki yaitu mengenal sejarah Bangsa Indonesia. TITIK. Kami dilarang keras berisik apalagi jualan. Eh Emak Dena ponselnya bunyi dua kali, banter pisan. Gereja ini merupakan pindahan dari gereja Kawi yang ada di Temple Straat. Gereja Kawi berdiri pada tahun 1815. Karena dirasa tidak memenuhi jumlah jemaat yang semakin banyak, maka pada 5 Agustus 1900 dibangunlah Gereja Katolik ini. Pembangunan Gereja itu kental banget nuansa Eropanya. Pintu dan jendela yang tinggi, tiang dinding yang membulat, serta ornamen yang menghiasi dinding gereja memperlihatkan Europe styles. Gereja Kawi saat ini, menjadi Bank BTPN di Jl. Makmu Kiper..!! (lupa)
Pembangunan gereja ini canggih banget menurut Angki di tahun segitu. Kenapa eh Kenapa, Karena eh Karena, tanah tempat pembangunan gereja ini adalah rawa-rawa, sehingga tanah itu jadi lunak. Untuk membuat pondasi dibutuhkan kayu Jati sebanyak 790 tiang dan sedalam 15 meter. Tahun segitu belum ada molen buat ngaduk semen. Nah pembuatan pondasi itu memang udah dihitung lah ama arsiteknya, kalo nggak wah dengkulmu mlocot Rek..!!! Untuk kelangsungan berdirinya Gereja itu, dibuatlah dua sumur yang ada di samping gereja. Maksudnya apaa??? Sumur itu sebagai detektor ketinggian air sumur, kalo sampai tidak ada air dalam sumur, wah siap-siap aja Menara Pisa pindah. Artinya tanah di bawah gereja menjadi ambles. Karena itu Pak Freddy bukan Mercury selalu memperhatikan ketinggian air sumur.
Gereja Katolik ini juga jadi saksi bisu perjuangan arek-arek Surabaya di tahun 45. Hal itu diceritakan oleh Pak Freddy bukan Mercury yang pada tahun pertengahan 1945 gereja ini terbakar dan hanya menyisakan dinding. Atap dari gereja ini terbakar karena api yang bergerak ke atas. (Emang ada api bergerak kesamping????). Lalu ada tahun 1950an atau 1960an (lupa) diadakan renovasi pada gereja tanpa kaca mozaik di dindingnya. Yang dipakai adalah kaca polos untuk jendela.
Menara tempat lonceng pada gereja ini baru dibangun pada tahun 1996. Jadi sebelum tahun 1996, lonceng gereja terlihat terbuka. Yang gokil bin unik itu adalah hilangnya lonceng gereja ketika gereja kebakaran tahun 1945. Nah lo, siapa yang nyuri??? Tuh lonceng berat banget lah, kenapa ??? di lonceng itu tertulis Surabaja 1920. Tahun segitu belum ditemukan titanium, ya iya lah, jadi itu murni besi. Kemudian ketika renovasi, ada rencana untuk membuat ulang lonceng gereja tersebut. Tapi, tiba-tiba salah seorang Pastur melihat lonceng itu di Pasar GEmbong. Tanpa ba-bi-bu, itu pastur membeli (lagi) itu lonceng berapapun harganya.
Lalu kami keluar menuju samping gereja tempat gua kelahiran Jesus Kristus oleh Maria. Pembangunan gua ini adalah murni sumbangan sebuah keluarga yang peduli. Pada dinding-dinding sepanjang gua buatan ini, terlukis perjalanan Jesus disalib. Dan di gua inilah kami membangun situs NARSIS.COM alias poto-poto gito lowww…!!!! Tempat terakhir di gereja yang kami jelajah ialah tempat penyimpanan perlengkapan misa di tahun 1900. Ada tempat lilin yang terbuat dari kuningan, jubah Kasula (baju paling luar untuk misa). Dan semua itu masih tersimpan baik di sekretariat gereja.
08:35 WIB
Tugu Pahlawan Surabaya
Jl. Pahlawan Surabaya
Waktu Angki dan WS Comm berkunjung ke Tugu Pahlawan. Rame banget, secara, Pak Presiden mo datang, terus keeesokan harinya ada konser yang tayang live oleh RCTI. Keramaian berasal anak-anak TK ampe SMA datang memenuhi pintu masuk menuju museum. Ditambah orang tua yang ikut mendampingi putra-putri mereka. Kita agak bingung menjurus ke arah kecewa karena opsi yang Jimmy tawarkan. Kita bisa masuk ke museum tanpa pemandu, atau kita menunggu selama 30 menit kehadiran pemandu. Atau kita masuk dulu lalu 30 menit lagi kita kembali ke pintu tiket menjemput pemandu. Ya akhirnya kita ambil opsi terakhir. Rugi juga sih karena tiket yang kami beli adalah paket bersama pemandu. Pengen ngajak jalan-halan pemandu keluar?? tanyakan Makmu sing kancutan Seng….!!! Begitu masuk di pintu masuk di Tugu Pahlawan, kami diperlihatkan relief yang bercerita perjuangan melawan penjajah. Di lantai UG Tugu Pahlawan, kami langsung dihadapkan oleh patung perjuangan.

Di lantai UG ini terdapat foto-foto arek-arek Suroboyo dan manekin perjuangan. Lalu kami menuju diorama elektronik alias nonton film perihal perjuangan hari pahlawan. Di film itu ternyata perobeken bendera kompeni di Hotel Orange terjadi pada 19 September 1945 bukan 10 Nopember, ketika Belanda menginap di situ pada kamar 33. Belanda membonceng sekutu yang jadi ojek di Surabaya. Ada adegan yang mengharukan ketika menonton diorama ini, ketika sang suami juga ayah pergi berperang. Itu dibuktikan oleh Emak Dena yang berkaca-kaca menontonnya. Nyampe adegan terakhir ada pengumuman dari megaphone sebuah TK bahwa kunjungan telah selesai. Padahal itu film belum tamat. CAPE DEH Nonton Lageee…!!!!
…………………………………………….
…………………………………
…………………………
………………….
……………….
…………
………
…….
.
.
Akhirnya selesai pulalah kami menonton diorama elektronik ini. Kami oleh Jimmy diberitahukan bahwa kami masih punya waktu 15 menit untuk berkeliling ke tempat sekitar tugu pahlawan yang belum kami kunjungi. Nah entah emang karena kita belum pernah kesana akhirnya kita kayak janjian sama-sama naik ke lantai 1. Sebelum naek ada tulisan yang menggelitik Angki, yaitu dilarang memotret dilantai 1. Nah lo nyampe di lantai satu blitz kamera g’ henti-henti menyala, disertai bunyi ceklak-ceklek dari kamera ponsel. Slogan tinggalah Slogan di Indonesia.
Angki teramat puas melihat koleksi senjata di lantai 1 ini. Karena Angki bisa lihat langsung senapan mesin Mitsubishi RK dari Jepang yang merupakan bajakan dari MG 42 buatan Nazi Jerman. Coba bayangkan, MG 42 dapat memuntahkan peluru 3000 permenit, kalo yang Mitsubishi RK “cuma” sanggup memuntahkan peluru 800 permenit. Ditembak iku yo Udelmu Mlocot Rek. Bren yang legendaris juga dipajang di sini. Dan banyak banget senjata-senjata yang dipajang di sini,yang Angki lupa catat.



Pingback: Hari Ini « raden mas angki bukaningrat ™
Pingback: Journey To The Past - Soerabia [2-habis] « Raden Mas Angki Bukaningrat ™
Thanks lho ya udah mempromosiin gereja kita…. lain kali dateng lagi ya……
Pingback: Wisata Imlek (Full Version) « Raden Mas Angki Bukaningrat
wah.. manteb iki cerito jeng-jeng-e, cak..
weruh saka cak fahmi saya..
eh, film yg ditonton itu film yg dibikin sama Iman Tantowi itu bukan?
saya inget banget pernah liat film perjuangan yg ada adegan 19/11 di hotel Yamato itu..
film itu bukan, cak?
wahhh seru banget yah wisatanya
bwahahahaaa… vocab cak cuk itu nongol lagi! demi toutais
*duh, sakit perut!*
lanjut ki, sambungan laporannya ditunggu