……………….Ada harga di bagian depan SPBU tadi, jadi harga Premium, Pertamax dan Solar tertera di depan SPBU tadi. Jadi pengendara di luar negeri bisa pilih SPBU favoritnya.
Ada SHELL, Pennzoil, Agip endbre endbre endbre
NAh di Indonesia kan Pertamina monopoli, jadi harga di Sabang sama dengan harga di Wamena.
Nah dari cerita sang Dosen tadi Pertamina bisa Angki pastikan ketakutan..!!
Upaya Pertamina “Melokalosasi SPBU” sudah aneh bin ajaib mengarah ke Rakus..!!
Angki ambil contoh di Surabaya tepatnya di Jl. Biliton berdiri SPBU, jika kita jalan kaki kemudian belok kiri ke Jl. Sulawesi..!! menuju Jl. Kertajaya
“Haiya..!!! tadi ada SPBU, kok udah ada lagi a… !! jalaknya cuma dua latus metel a.. Haiya“
(kebetulan Angki mbonceng orang Cina
.
…
dalam mimpi)
Kalo mbonceng orang Cina emang mimpi,
Gitu…!! Ganti..!!!
tapi SPBU di Jl.Biliton dan SPBU ke Jl. Kertajaya itu bener..!!
Dan jarak 200 m itu Angki lihat di odometer motor si Didik.
Angki perhatikan angka yang berputar dari awal SPBU Biliton ada diangka 5 kamudian sampe di awal SPBU ke arah Jl. Kertajaya telah menunjuk di angka 7.
It’s mean 7-5=2.
2*100=200
200 meter..!!
Ditambah kualitas Premium yang
aduhai…!!! aduh bobroknya..!!!
Kalian tahu nggak istilah “KENCING” bagi truk pengangkut bahan bakar Pertamina (khusunya Premium).
Itu adalah kejadian truk pengangkut Pertamina tadi berhenti di tempat yang telah ditentukan.
Kencing kan berarti mengeluarkan.
Nah Premium tadi dikeluarkan sesuai dengan perjanjian.
“Perjanjian” ini melibatkan operator di depo Pertamina, supir truk dan “costumer”.
Begini ceritanya:
Deni adalah operator di depo Pertamina Deni memiliki keluarga seorang istri dan 3 anak Deni dan keluarganya hidup berkecukupan. Kalo pagi ini dirasa cukup makan tempe, maka entar siang atau besok paginya cukup lagi duu..eh makan Pizza atau Burger. (nggak nyambung banget).
Deni adalah lulusan SMP (Sekolah Masuk Petang).
Begitu lulus SMP pada tahun 1997 Angki bekerja di depo Pertamina Jogja .
Dan itu berarti telah 10 tahun Angki mengabdi di depo Pertamina.
Deni bekerja di Pertamina pada shift pagi ampe sore.
Tugas Deni mah gampang-gampang aja, hanya memasukkan minyak dari penyulang ke truk tangki untuk kemudian truk tangki tadi mendistribusikan ke SPBu-SPBU yang terdaftar pada depo Pertamina dimana tempat Angki bekerja.Deni memiliki saudara perempuan (sebutlah namanya RIZKA AMALIA binti SANUSI) di Muntilan dan dia memiliki pabrik Textil dengan nama PT. RIZKATEX untuk bahan baku jilbab.
Dalam sehari PT.RIZKATEX membutuhkan 150 liter solar untuk proses produksi pabrik textilnya. Ketika harga BBM khusus industri telah dicabut subsidinya oleh Pemerintah, maka kebutuhan BBM PT. RIZKATex untuk pabriknya semakin besar, dan pemasukan dari proses produksi pabrik textil-nya tetap. Sehingga laba yang dihasilkan PT. RIZKATex semakin lama semakin berkurang.
Rizka menghubungi Deni sambil menangis bahwa bisnis textilnya terancam bangkrut.
Ditanya kenapa oleh Deni
Dijawab sebab oleh Rizka
Seketika itu pula Deni prihatin sekaligus tertawa.
Seketika itu pula Rizka makin sedih sekaligus aneh.
Kenapa eh kenapa
Ternyata eh ternyata
Deni menyanggupi membantu Rizka menyediakan BBM bagi pabriknya dan Rizka menyanggupi persyaratan apapun untuk BBM demi kelangsungan pabriknya.Deni bekerja seperti biasa di depo pada pagi harinya. Jika satu truk tangki biasanya Angki mengisi 20.000 liter/truk tangki, maka mulai hari ini dan seterusnya Deni mengisi truk tangki BBM sebanyak 20.100 liter. Deni berkata kepada sang supir (sebutlah namanya Rifqi) agar 100 liter dalam truk tangki ini di berikan ke PT. RIZKATex. Dan Deni memberikan tip kepada Rifqi.
Sesampainya di PT. RIZKATex, truk tangki Rifqi tadi langsung menuju bagian mesin pabrik PT. RIZKATex. Rizka sebagai owner pabrik sueneng banget donkz.
Karena harga solar lewat Deni lebih murah bila dibangdingkan dengan harga BBM untuk industri. Dan Rizka cukup membeli 50 liter soler saja ke Pertamina.Setelah selesai mengisi 100 liter ke PT. RIZKATex, truk Rifqi menuju SPBU yang telah menunggu. Dan tentunya Rifqi telah mendapat tip dari Rizka.
Kejadian ini berlangsung terus menerus selama 4 tahun lamanya. Pada tahun 2002 atau tepatnya tahun ke 5 Deni bekerja, pihak direksi PT Pertamina Pusat mengganti semua sistem penyulang yang akan diditribusikan ke SPBU via truk Tangki.
Sistem baru itu adalah banyak minyak yang akan dimasukkan tidak bisa diubah oleh operator. Jadi jika pengaturan pada penyulang sebanyak 20.000 liter/truk tangki, maka 20.000 liter itulah yang akan mengisi truk tangki.
Tidak Kurang
Tidak Lebih
Tugas operator hanya membuka keran penyulang yang akan mengisi truk tangki yang akan menditribusikan BBM.
Hal ini sempat membuat pusing Deni.
Akhirnya dapatlah ide untuk mengakali pembatasan BBM tadi. Setelah truk Rifqi menyetor 100 liter ke PT. RIZKATex, truk Rifqi tidak langsung menuju SPBU tujuan, tapi masih mampir ke agen minyak tanah dan membeli 100 liter minyak tanah untuk dicampur ke truk tangki Rifqi.WHAT..!!!!
Pantes kualitas BBM Pertamina Aduhai…..!!!! SHIT..!!!
Tahun 2005 kembali PT Pertamina Pusat mengadakan revolusi pendistribusian BBM. Setelah penyulang kemarin dirombak, saat ini penyulang telah diupgrade tanpa operator. Begitupun truk Rifqi sudah tidak dipakai lagi.Sebagai gantinya truk baru (sebutlah supirnya dengan Ainur) berbahan alumunium dipakai untuk menggantikan truk Rifqi yang suka “Kencing” sembarangan. Dan truk Ainur ini (sekaligus) memiliki kelebihan kompatible dengan penyulang baru tadi.
Tidak perlu operator
Tidak perlu buka tutup keran penyulang
Cukup si sopir Ainur dapat melakukannya sendiri dengan cara masuk ke garasi pengisian, kemudian naik keatas tangki dan membukanya menggunakan kartu dengan cara menggesekkan kartu magnetik ke penutup tangki, setelah terbuka, Ainur kembali menggunakan kartunya untuk mengisi truknya dengan BBM dengan cara menggesekkan kartu magnetik ke penyulang.
Dan CUR…!!!!
Mengalirlah BBM ke truk tangki Ainur sesuai dengan jenis kartunya.
Deni kemana???
PT. Pertamina mempensiunkan operator semacam Deni..!!
C
A
P
E
K
.
.
.
.
!!!
D
DE
DEH
DEH.
DEH..!!

